HANDEP MANUGAL: Kearifan Lokal Dayak Murung Raya, Warisan Leluhur Untuk Ketahanan Pangan Masa Depan

Kegiatan pemerintah

Berita9234 Dilihat

MUNG RAYA / SEMAKU.net – Jika dunia modern mengenal istilah kolaborasi dan gotong royong sebagai bagian penting dalam membangun kehidupan bersama, masyarakat Dayak di Borneo telah lama mempraktikkan nilai-nilai tersebut melalui tradisi Handep Manugal. Senin, 05/10/2026.

Handep Manugal bukan sekadar tradisi menanam padi gunung. Lebih dari itu, tradisi ini merupakan bagian dari kearifan lokal yang mengajarkan tentang kebersamaan, penghormatan terhadap alam, tanggung jawab sosial, serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Nilai tersebut sejalan dengan falsafah Handep Habaring Hurung, yakni semangat bergandengan tangan, saling membantu, dan bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang sama.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Murung Raya, Sri Karyawati, mengatakan bahwa tradisi Handep Manugal memiliki nilai budaya dan sosial yang sangat kuat serta relevan untuk terus diwariskan kepada generasi muda.

Menurutnya, proses Manugal tidak dilakukan secara sembarangan. Di dalamnya terdapat berbagai tahapan, tata tertib, etika, serta nilai-nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun.

“Ada berbagai macam tahapan sakral di dalamnya. Ini bukan sekadar menugal. Ada sejarah, ada tata tertib dan ada etika. Mulai dari pemilihan benih padi terbaik oleh tetua adat, ritual Mamapas Lewu untuk memohon restu, hingga aturan siapa yang berhak membuka lubang tanam pertama. Semua itu mengandung pesan untuk menghargai alam, menghargai sesama dan menghargai proses,” tutur Sri Karyawati.

Ia menjelaskan, dalam tradisi Manugal, seluruh masyarakat yang terlibat bekerja bersama tanpa membedakan status sosial maupun latar belakang ekonomi. Semangat kebersamaan menjadi kekuatan utama dalam setiap tahapan pekerjaan.

Laki-laki menjalankan proses menugal menggunakan kayu tugal, sementara perempuan menaburkan benih pada lubang yang telah dibuat. Setiap orang memiliki peran masing-masing dan saling melengkapi.

“Di ladang Manugal tidak boleh ada kebencian. Tidak boleh ada yang merasa paling kaya atau paling miskin. Semua sama, semua bekerja. Laki-laki menugal, perempuan menabur benih dengan penuh kasih seperti merawat anak sendiri. Inilah cerminan masyarakat yang humanis, harmonis dan menjunjung tinggi kebersamaan,” ujarnya.

Sri Karyawati berharap Handep Manugal tidak berhenti sebagai sebuah tradisi budaya atau sekadar menjadi tontonan dalam kegiatan pariwisata. Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus mampu menjadi tuntunan kehidupan, khususnya bagi generasi muda.

“Kami berharap ke depannya Handep Manugal ini jangan hanya menjadi tontonan wisata, tetapi menjadi tuntunan. Menjadi gerakan moral bagi anak muda Murung Raya agar tidak malu menjadi petani. Petani itu adalah profesi mulia, karena petani merupakan bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan dan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat,” harapnya.

Di sisi lain, penerapan nilai-nilai kearifan lokal tersebut juga dapat berjalan beriringan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian.

Dinas Pertanian dan Perikanan Murung Raya terus mendorong terjalinnya kolaborasi antara tenaga teknis, penyuluh pertanian, petani, tokoh masyarakat, serta kelompok tani dalam mengembangkan sistem pertanian yang sesuai dengan kondisi lokal.

Menurut Sri Karyawati, penyuluh pertanian tidak semestinya hadir hanya sebagai pihak yang memberikan instruksi, tetapi juga sebagai mitra petani yang mampu mendengarkan pengalaman dan pengetahuan lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Ilmu pertanian modern, seperti penggunaan pupuk organik, pengaturan jarak tanam, peningkatan produktivitas serta pengendalian hama secara ramah lingkungan, dapat dipadukan dengan pengetahuan lokal masyarakat mengenai kondisi alam dan pola pertanian tradisional.

“Petani kita adalah profesor di ladangnya sendiri. Mereka telah membaca alam jauh sebelum ada buku pertanian. Tugas kami adalah merawat dedikasi itu dan memberikan sentuhan teknologi agar padi gunung kita semakin produktif tanpa merusak tanah,” pungkas Sri Karyawati.

Tradisi Handep Manugal pada akhirnya mengajarkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya dibangun melalui teknologi dan produksi, tetapi juga melalui kebersamaan, pengetahuan lokal, penghormatan terhadap alam dan semangat gotong royong.

Dari sebuah lubang tugal di ladang-ladang pegunungan Murung Raya, tersimpan pesan besar bahwa ketika masyarakat menanam bersama, menjaga alam bersama dan bekerja dengan penuh kebersamaan, maka hasil yang dipanen bukan hanya padi, tetapi juga kesejahteraan dan keberlanjutan kehidupan bagi generasi mendatang. [Longking]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *