Kemilau Keindahan Sungai Barito Hulu Tidak Lagi Memukau, Akibat Pencemaran Perusahaan

yang sedang beroperasi di sekitar wilayah

PARIWISATA240 Dilihat

MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Suara deru mesin speedboat begitu jelas terdengar ditelinga meskipun berjarak hampir 5 km dari Pelabuhan sungai Barito. Barito merupakan salah satu sungai besar di Indonesia, Barito hulu di pegunungan Schwaner Muller di bagian utara, sebagai sungai terpanjang di Kalimantan Tengah selain sungai Kapuas, dan sungai Barito ini bermuara di Banjarmasin menuju laut Jawa. Minggu, 02/06/2024.

Sungai Barito dikenal sejak ratusan tahun silam, termasuk berbagai mitos, legenda, situs sejarah Kerajaan Dayak, Patih Muhur di Batola hingga pemukiman suku Dayak dari bagian tengah hingga hulu sungai Barito. Bahkan tercatat, sungai ini punya andil besar dalam sejarah persebaran berbagai suku Dayak, saksi sejarah hingga tradisi kehidupan hingga anak sungai di bagian tenggara Kalimantan.

Tak mudah untuk mencapai desa yang menjadi tempat tinggal suku Dayak Bakumpai, Uut Danum Kadorih, Siang Murung Manyan, Kahayan ini. Kita harus menaiki Klotok (kapal Taxi) dengan biaya 150 ribu sekali jalan dari Kabupaten Puruk Cahu.

Kapal Air mampu menampung hingga
Banyak penumpang orang, lebih dengan beberapa barang yang bawaan simple.
Kita akan melewati beberapa rumah dan warung ‘serba ada’ yang terapung di atas sungai Barito.

“Sungai Barito memiliki panjang 900 Km, lebar 350-500 m, dengan kedalaman 6-14 m, dan mampu dilayari hingga 700 Km. Potensi sungai ini juga cukup banyak, mulai dari kekayaan alam berupa kayu alam seperti Ulin, Balam, Kaliandra, dan lainnya, juga terdapat berbagai hewan endemic, mulai dari burung Rangkong, burung Air dan lainnya. Berbagai jenis tanaman obat, emas hingga batubara, nekel dan kekayaan alam lainnya yang menjadi kekayaan tak ternilai yang terkandung di Sungai Barito.

Pak Hatta, salah satu masyarakat desa Tumbang Tuan, dari suku Dayak Bakumpai menyebut, terdapat 41 jenis tanaman obat di dalam hutan di sekitar aliran sungai Barito, diantaranya Sarang Semut, Bajakah, Seluang Belum dan lainnya. Sarang wallet juga menjadi kekayaan alam dengan masih terjaganya beberapa hutan tersisa di area ini.

Ketika menyusuri sungai ini, kita akan mulai disuguhkan dengan pemandangan cantik pada saat melintasi sungai Barito,
berbentuk melengkung dengan susunan nan indah. Setelah itu, kita akan melewati berbagai hunian rumah kayu di pinggiran sungai, beralaskan kayu Ulin bulat dibawahnya yang disebut dengan ‘Rumah Lanting’. (Terapung) Semakin ke hulu, kita juga akan menemukan Lebih banyak lagi tempat pemukiman milik masyarakat yang di kampung pedesaan maupun kebun dan ladang,

Namun sayangnya Deru mesin besar dari mobil Hardtop yang telah dimodifikasi membuat suara khas beradu dengan aliran lumpur dan pasir untuk menyaring butiran emas. Tak ketinggalan suara deru mesin penebang kayu berjajar, baik skala kecil maupun besar, milik beberapa perusahaan tambang yang sedang beroperasi sehingga mencemari udara dan lingkungan, Air sungai Barito.

Yang dulunya jernih dan dulunya tempat berenang anak anak daya saat bermain sambil bermandi dan Air bersih yang di gunakan untuk konsumsi warga masyarakat, Barito hulu, Saat ini sudah tak seindah dulu lagi, Dimana sungai dan hutan sudah rusak tercemar limbah AMDAL PT perusahaan yang sampai saat ini sedang beroperasi mengoyak tanah hutan hingga mencemari lingkungan. 

Dalam dokumen Indonesia Green Growth Plan (IGGP) 2022, disebutkan Kalimantan Tengah memiliki wilayah Kesatuan pengelola Hutan (KPH) dengan luas 8.510.524 ha dengan 4 unit Kesatuan Pengelola Hutan Lindung (KPHL) seluas 454.443 ha sekaligus 29 unit Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP). Dengan luasan ini, maka tak mengherankan jika Sungai Barito menjadi perencanaan dan pencadangan sumber daya berikutnya untuk dikelola.

Tetapi sayangnya tidak sesuai harapan warga masyarakat Dayak Kalimantan itu sendiri,
Khusus untuk warga masyarakat Dayak Kabupaten Murung Raya,
Dimana tanah dan hutan cuma bisa di nikmati oleh segelintir orang,
Sementara pihak perusahaan semakin membabi buta menghabiskan Emas kayu batu bara dan semua isi alam yang terkandung didalamnya. 

Tahun 1998-2000- s/d 2024. Ini masih terlihat bahwa, sungai Barito ini bahkan tidak lagi memberikan karunia terbesarnya. Kepada masyarakat putra putri daerah kabupaten Murung raya, melainkan kekayaan alam seperti Emas, didapatkan dengan mudahnya, oleh Pihak perusahaan disebut sebagai tahun puncak emas bagi masyarakat hulu. Bagaimana tidak, penghasilan 600-800 ribu Rupiah/7 hari, tidak lagi berpihak kepada rakyat kecil pekerja manual. 

Namun semua terasa di rampas oleh inspestur asing yang sampai saat ini beroperasi dengan Yunit raksasa dan menghabiskan semua isi alam sekitar Murung Raya, ibaratkan sebuah kelapa yang tertinggal hanyalah tempurung” tandasnya. [Longking]

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *