Anyaman Tradisional Suku Dayak Miliki Pesona Tersendiri Yang Terabaikan Ungkap Imanudin

Kegiatan pemerintah

MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Menurut Anggota DPRD kabupaten Murung Raya, Imanudin, S.Pd.i, Anyaman tradisional suku Dayak di Kab. Mura, Kalimantan tengah, memiliki pesona tersendiri yang selama ini diabaikan. Dibandingkan dengan anyaman suku lain, anyaman Dayak membutuhkan teknik pengerjaan yang tinggi karena tingkat kompleksitasnya. Sabtu, 19/04/2025.

Desain yang rumit serta motif yang beragam dan kaya warna membuat anyaman ini disebut sebagai anyaman terbaik dan unik. 
Puruk cahu kabupaten Murung Raya, April 2025.

”Anyaman Dayak terbaik bersama dengan anyaman yang terbuat dari Bahan bakunya tidaklah sukar di cari terkhususnya dalam wilayah kabupaten Murung Raya ini dibentuk dan didapat, seperti bambu, rotan, nipah, dan daun pandan. Sayang, eksistensinya kian tergerus dan terancam punah,”


Terutama di akibatkan oleh banyaknya perusahaan tambang yang masuk daerah hingga hutan belantara yang dulunya merupakan hutan yang asri dan yang memiliki kekayaan alam seperti bebatuan pohon pohon yang rimbun sungai yang mengalir jernih dan di hutan belantara tentunya ada banyak rotan bambu dan tumbuh tumbuhan lain, tetapi kini sudah menjadi tempat beroperasi tambang, ” pungkasnya, Imanudin. 

jika penggerusan terus terjadi, identitas bangsa akan hilang. ”Jika pembangunan hanya membangun infrastruktur, tetapi melupakan akar kebudayaan, niscaya jalan dan jembatan yang dibangun hanya akan menjadi jalan masyarakat untuk meninggalkan budayanya,” Tutur anggota DPRD Mura dari politisi partai keadilan sejahtera (PKS) ini. 

Saat ini, hanya orangtua yang berusia di atas 40 tahun yang mampu menganyam dengan baik. Anak muda nyaris enggan untuk belajar bahkan seolah kehilangan kemampuan menganyam.

,ada beberapa peneliti yang melakukan ekspedisi selama di tahun tahun belakangan ini komunitas Dayak, Murung Raya Kalimantan Tengah, mengatakan, banyak anak muda Dayak lebih memilih bekerja di pertambangan atau perkebunan, hal tersebut menurut analisis peneliti 60% diantaranya menjawab kurang Nya pembinaan dari pihak pemerintah.

dan apalagi hal yang terkait pemasaran nya yang bisa laku di jual terkecuali pada saat saat tertentu misalkan musim panen sayur panen padi, itu pun sangat jarang sekali di gunakan oleh pihak petani yang ada di kabupaten Murung Raya ini apalagi mereka lebih memilih membeli dari pasaran yang di bawa dari luar daerah,.” Tutup nya salah seorang pengrajin yang enggan disebutkan namanya, tetapi seolah mengharapkan adanya dukungan dari pemerintah daerah kabupaten Murung Raya. [Longking]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *