H. Rejikinoor: Kesehatan Warga Harus Jadi Prioritas di Tengah Kabut Asap dan Cuaca Ekstrem

Kegiatan pemerintah

Uncategorized6380 Dilihat

MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Kondisi kabut asap dan cuaca panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Murung Raya, termasuk kawasan Karau, mendapat perhatian dari Ketua Komisi I DPRD Murung Raya, H. Rejikinoor, S.Sos. Senin, 31/08/2026.

Ia meminta pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan layanan kesehatan, terutama untuk mengantisipasi berbagai dampak yang dapat ditimbulkan oleh buruknya kualitas udara dan suhu panas yang cukup tinggi.

Menurutnya, kesiapsiagaan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tingkat kabupaten hingga ke wilayah kecamatan dan desa-desa pedalaman.

“Saat ini kita dihadapkan pada dua ancaman, yaitu kabut asap dan panas yang luar biasa. Karena itu, kesiagaan tenaga medis dan kelengkapan sarana harus menjadi prioritas.

Mulai dari obat-obatan, oksigen hingga alat penunjang lainnya harus dipastikan tersedia, baik di tingkat kabupaten, kecamatan maupun desa-desa pedalaman,” ujar H. Rejikinoor saat diwawancarai media.

PERKUAT LAYANAN KESEHATAN HINGGA PEDESAAN

H. Rejikinoor menegaskan, penanganan dampak kabut asap tidak cukup hanya mengandalkan rumah sakit yang berada di ibu kota kabupaten.

Menurutnya, fasilitas kesehatan seperti puskesmas, puskesmas pembantu (pustu), hingga poskesdes perlu diperkuat agar masyarakat di wilayah pedalaman tetap mendapatkan pelayanan kesehatan secara cepat ketika mengalami gangguan kesehatan.

Selain tenaga kesehatan dan obat-obatan, ia juga mendorong ketersediaan sarana pendukung di desa, termasuk fasilitas air bersih.

“Termasuk perlengkapan sarana pelayanan desa seperti mesin pompa air. Ini penting untuk menjaga kebersihan, ketersediaan air bersih, sekaligus membantu penanganan titik api kecil agar tidak berkembang menjadi lebih besar,” tambahnya.

PERTIMBANGKAN PEMBELAJARAN JARAK JAUH

Dampak kabut asap terhadap kesehatan anak-anak juga menjadi perhatian H. Rejikinoor. Ia mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan penerapan pembelajaran jarak jauh apabila kualitas udara sudah berada pada kondisi yang membahayakan kesehatan.

“Bagi anak-anak sekolah hendaknya dilakukan secara daring atau pembelajaran jarak jauh. Ini untuk mengantisipasi berbagai jenis penyakit yang bisa saja terjadi akibat kabut asap dan debu yang mengancam kesehatan guru maupun murid,” jelasnya.

Menurutnya, kebijakan tersebut bukan berarti menghentikan proses pendidikan, melainkan bentuk penyesuaian sementara untuk melindungi peserta didik dan tenaga pendidik dari risiko gangguan pernapasan akibat paparan asap dan debu.

Ia berharap langkah tersebut dapat diterapkan secara terukur dengan tetap mempertimbangkan kondisi kualitas udara serta perkembangan situasi di masing-masing wilayah.

PERLU KOLABORASI LINTAS SEKTOR

Lebih lanjut, H. Rejikinoor menilai penanganan kabut asap dan dampaknya terhadap masyarakat tidak dapat dilakukan oleh satu instansi saja.

Diperlukan sinergi antara BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, TNI-Polri, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta seluruh elemen masyarakat.

“Kita harus bergerak cepat dan terukur. Pemerintah hadir memastikan layanan tetap berjalan, masyarakat menjaga kesehatan dan lingkungan, sementara sekolah beradaptasi demi keselamatan bersama,” pungkasnya.

H. Rejikinoor berharap kondisi tersebut menjadi perhatian bersama agar upaya pencegahan dan penanganan dampak kabut asap dapat dilakukan lebih cepat, khususnya terhadap kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat yang memiliki aktivitas di luar ruangan.

Menurutnya, menjaga kesehatan dan keselamatan masyarakat merupakan bagian penting dalam mendukung pembangunan daerah menuju Murung Raya Sejahtera 2045.
Siaga Bersama. Lindungi Warga. Selamatkan Masa Depan. [Longking]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *