Kades Kalasin Keluhkan Lambannya Perbaikan Jembatan Sungai Joloi dan Minimnya Peran CSR PT Borneo

Kegiatan pemerintah

MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Kepala Desa Kalasin, Kecamatan Uut Murung, Kabupaten Murung Raya, Ater, menyampaikan kekecewaannya terhadap lambannya penanganan Jembatan Sungai Joloi yang rusak parah selama dua tahun terakhir ini yang seolah di telantarkan oleh pihak terkait, sementara pihak nya sudah melakukan negosiasi dengan beberapa instansi terkait perbaikan jembatan penyebrangan ini. Jum’at, 20/06/2025.

Selain itu, ia juga menyoroti minimnya kontribusi sosial dari perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah tersebut padahal pihak pemerintah daerah kabupaten Murung Raya sudah menyarankan pihak perusahaan tersebut untuk ambil bagian.

Dalam keterangannya kepada media, Kamis (12/6/2025), Ater menjelaskan bahwa Jembatan Sungai Joloi merupakan satu-satunya akses penghubung utama antara Desa Kalasin dengan dua desa tetangga, yakni Desa Tumbang Tujang dan Desa Tumbang Topus.


“Selama dua tahun ini, masyarakat terpaksa harus menghadapi kesulitan karena akses transportasi yang rusak berat. Padahal, Desa Kalasin berada di Ring 1 wilayah tambang PT Borneo Prima.” Pungkas Ater

Ia juga mengatakan pentingnya sarana transportasi ini bukan hanya untuk kesejahteraan masyarakat dalam lingkup desa kalasin ini saja, tetapi Tanpa jembatan jolo ini, mobilitas warga dan distribusi warga di tiga desa termasuk barang dan jasa dan sebagai Pemerintah desa dan BPD kami juga mengajak kepada pemerintah desa tumbang Tujang dan desa tumbang topus, untuk berkolaborasi bekerjasama bergotong royong mengingat jalan dan jembatan penghubung antara Desa’ ini adalah milik bersama yang sudah seharusnya untuk kita pelihara bersama, demi kesejahteraan bersama,” ujar Ater.

Tak hanya mengeluhkan persoalan infrastruktur, Ater juga mengkritik rendahnya kontribusi Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Borneo Prima, perusahaan tambang yang beroperasi di sekitar desa. Menurutnya, hingga kini tidak ada satu pun bantuan CSR yang diterima oleh warga Kalasin.

“Perusahaan seharusnya tidak hanya fokus mencari keuntungan, tapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan sosialnya. Sampai hari ini, kami belum pernah menerima program CSR dari PT Borneo Prima,” tegasnya.

Ater berharap pemerintah daerah dan pihak perusahaan segera turun tangan untuk menangani kondisi jembatan serta meningkatkan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat sekitar tambang.

Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Dalam praktiknya, CSR dapat berupa pembangunan infrastruktur, bantuan pendidikan, layanan kesehatan, hingga program pemberdayaan ekonomi.

Minimnya peran CSR di Desa Kalasin menjadi ironi, mengingat desa tersebut berada di kawasan strategis industri tambang namun masih kesulitan mengakses layanan dasar.

“Kami tidak menuntut berlebihan. Kami hanya ingin perusahaan peduli dan ikut membangun desa tempat mereka beroperasi,” tutup Ater. [Longking]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *