Kemarau Panjang, Layanan PDAM Murung Raya Berkendala, Warga Kembali Mandi dan Mencuci di Sungai

Kegiatan pemerintah

Uncategorized5244 Dilihat

MURUNG RAYA / SEMAKU.net — Dampak kemarau panjang di Kabupaten Murung Raya tidak hanya dirasakan melalui kabut asap dan debu yang menyelimuti sejumlah wilayah. Sabtu, 29/08/2026.

Krisis air bersih kini turut dirasakan masyarakat setelah pasokan air dari PDAM di beberapa kawasan mengalami gangguan hingga tidak mengalir.

Kondisi tersebut memaksa sebagian warga kembali memanfaatkan aliran sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi, mencuci, hingga mengambil air untuk keperluan rumah tangga.

Pantauan di lapangan, sejumlah warga terlihat membawa gentong, ember, dan tumpukan pakaian menuju sungai. Sebagian di antaranya harus menempuh jarak yang cukup jauh dengan kondisi jalan menanjak dan menurun. Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi warga yang membawa anak sekaligus barang bawaan.

“Sudah hampir sepanjang musim kemarau ini air ledeng di rumah tidak mengalir. Biasanya untuk mandi, mencuci, dan keperluan lainnya cukup dari keran. Sekarang terpaksa turun ke sungai, padahal jaraknya cukup jauh. Naik turun sambil membawa gentong air, menggendong anak, dan membawa cucian. Kami harus bolak-balik,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

WARGA USULKAN SATU RT SATU MESIN POMPA AIR

Di tengah kesulitan mendapatkan air bersih, warga berharap pemerintah desa dapat mengalokasikan anggaran untuk pengadaan mesin pompa air yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Warga mendukung gagasan yang sebelumnya disampaikan Ketua DPRD Kabupaten Murung Raya, Rumiadi, S.E., S.H., M.H., mengenai pengadaan satu mesin pompa air untuk setiap RT melalui Dana Desa sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.

“Kami sangat setuju jika setiap RT memiliki mesin pompa air. Selain bermanfaat untuk membantu mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan, pompa air juga sangat diperlukan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Menurut warga, keberadaan mesin pompa air akan sangat membantu masyarakat, terutama keluarga yang memiliki anak kecil, ibu pascamelahirkan, warga yang sedang sakit, serta para lanjut usia yang kesulitan berjalan jauh menuju sungai.

“Bagi anak kecil, ibu yang baru melahirkan, warga sakit, dan orang tua yang sudah lanjut usia, tentu sangat sulit jika harus turun ke sungai dengan jarak yang cukup jauh.

Karena itu, keberadaan pompa air di setiap RT akan sangat membantu,” tambahnya.
Warga menilai, apabila setiap RT memiliki akses terhadap mesin pompa air dan sumber air yang dapat dimanfaatkan, beban masyarakat selama musim kemarau dapat berkurang.

Selain mempermudah pemenuhan kebutuhan air bersih, keberadaan sarana tersebut juga dapat menjadi bagian dari kesiapsiagaan menghadapi berbagai kondisi darurat.

KEMARAU UJI KESIAPAN LAYANAN DASAR

Krisis air bersih ini menjadi pengingat bahwa dampak kemarau panjang tidak hanya berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan, kabut asap, maupun debu, tetapi juga menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.
Air bersih merupakan kebutuhan vital yang berkaitan langsung dengan kesehatan, kebersihan, dan kehidupan sehari-hari warga.

Oleh karena itu, diperlukan langkah bersama antara pemerintah kabupaten, PDAM, pemerintah desa, dan seluruh pihak terkait untuk mencari solusi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Masyarakat berharap pelayanan air bersih dapat segera kembali normal. Di sisi lain, langkah antisipasi melalui penyediaan sarana pendukung, seperti mesin pompa air dan sumber air alternatif, juga perlu dipersiapkan untuk menghadapi kemungkinan kemarau berkepanjangan di masa mendatang.

Sebab, air bukan sekadar kebutuhan sehari-hari. Air adalah penopang kehidupan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.
Naskah ini sudah diperbaiki dengan bahasa yang lebih formal, rapi, dan tetap mempertahankan pesan utama dari tulisan sebelumnya. [Longking]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru