“Mentir” Ritual Adat Desa Tumbang Masao Yang Harus Dilestarikan Dalam Masyarakat Setempat

Adat budaya Indonesia

MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Mantir adat desa tumbang Masao, Nurdiansyah Efendy (alm) pernah bercerita kepada sejumlah kariawan PT Pacifik selatan resorces Indonesia yang saat itu sedang beroperasi di dalam wilayah Desa’ tumbang Masao, kecamatan sumber Barito, pada tahun 1997. Minggu, 09/02/2025.

Ia berpesan Agar pihak PT yang tengah beroperasi Sebelum memasuki hutan belantara hendaknya terlebih dahulu patuhi aturan Ritual yang sudah membudaya secara turun temurun dilaksanakan oleh nenek moyang kita, di Atas tana malai tolung lingu, Kabupaten Murung Raya, yang sejak lama di kenal sebagai kabupaten yang kaya akan budaya leluhur, ” Tukas nya. 

Seperti ritual memasang ancak di hutan desa. “Ritual memasang ancak sudah menjadi kebiasaan suku Dayak, ritual ini bertujuan untuk permisi atau meminta ijin kepada Roh leluhur atau penghuni alam yang tak kasat mata di hutan desa.”

Pada saat itu si penulis juga salah satu bagian dari kariawan PT Pacifik selatan resorces Indonesia (PT PSSRI) sehingga Cerita ini di dokumentasikan oleh penulis pada 9 Pebruari 2025.

Dengan harapan bagi siapapun yang memasuki are kawasan hutan dan Desa’ tersebut bisa melakukan hal seperti yang sudah di sampaikan oleh Mantan Mantir adat desa’ Agar dapat bekerja lancar, dengan mempersembahkan sesajen berbagai jenis makanan yang serba sedikit dan perlengkapan secara ritual sama dengan Kita sudah menolak bala, dengan melibatkan kecampur tanganan Roh leluhur.

Kita juga berharap di jauh dari Marabahaya dan tidak diganggu saat melakukan aktivitas di hutan desa”, tutur Nurdiansyah (alm) tokoh adat desa tumbang masao, 1997.

selaku Mantir Adat Desa’ tumbang Masao, Nurdiansyah Efendy, yang sangat itu juga masih aktif sebagai kepala desa, ia menambahkan bahwa melakukan ritual memasang ancak dilakukan karena
Ritual ini sangat penting untuk menjaga hutan tetap lestari.

Dan hal ini tidak lepas dari keterlibatan semua pihak sehingga selain alam yang dilestarikan, tentu masyarakat adat dan budaya, yang dulu secara turun-temurun di lakukan oleh para tokoh pendiri Desa tumbang Masao ini harus dipertahankan. Jangan sampai dibiarkan sirna ditelan jaman.

“Seperti Masang ancak di tengah hutan sebelum melakukan kegiatan bertani membuat lahan dan kegiatan lainnya
Bahan ancak yang digunakan terbuat dari anyaman bambu diatasnya berlapis helaian daun pisang, sesuai petunjuk Mantir Adat dan tokoh lainnya yang sudah mengerti bagaimana cara untuk memanggil Roh leluhur penghuni dimana tempat kita bekerja.

Apalagi apabila ada pihak asing yang membawa alat berat seperti excavator Tractors dll nya yang bisa membangkitkan roh penghuni alam dari tidur nya, masa sebelum beroperasi pihak terkait seharusnya lebih awal menghubungi pihak Mantir Adat karena tidak jarang terjadi Roh penghuni alam yang sedang terbangun bisa mengganggu masyarakat desa’ setempat terutama bagi anak anak dibawah umur.

“Ritual memasang ancak dan melakukan upacara selamatan dengan mengundang masyarakat desa setempat tidak merugikan pihak pihak tertentu dan juga tidak harus mengeluarkan dana dengan jumlah yang banyak, Mengutip kata orang bijak, jika jaga hutan maka hutan akan menjaga kita, Salam lestari.”
[Longking]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *