MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Huma Betang sebagai benteng pertahanan dimana tempat perkumpulan umat’ bersatu dari berbagai suku agama ras dan golongan. Selasa, 28/05/2024.
Yang menurut cerita sejarah, di tahun 1882 kecamatan sumber Barito, bukanlah sebuah kecamatan yang definitif melainkan sebuah perkampungan yang masih sunyi senyap, di mana pada saat itu semua warga sedang sibuk dengan pekerjaan nya, masing-masing tidak terkecuali laki laki, maupun perempuan, semua berusaha untuk mencari nafkah di tengah hutan, ada yang bertani ladang ada juga pencarian emas dan kayu gaharu.
” Pada saat itu Datanglah seorang warga yang membawa kabar hingga marak di bicarakan di kalangan warga, tentang berita kayau, pemburu kepala manusia, yang hampir terjadi dimana-mana.
Berita yang sedang ramai di bicarakan oleh warga sekitar, akhirnya sampai ke telinga kepala suku, Dengan bijak dalam mengambil keputusan yang tegas si kepala suku pun segera mengutuskan para pengawalnya untuk segera menyampaikan berita tersebut ke setiap warga kampung yang berada di pedalaman hutan Agar segera berkumpul di kampung untuk mengadakan musyawarah mufakat.
Tidak lama kemudian warga yang dari pedalaman hutan pun semua berdatangan dan segera berkumpul di Rumah kepala suku, untuk mengadakan musyawarah mufakat, Alhasil yang di dapatkan dari hasil kesepakatan bersama.
Yakni Semua warga setuju untuk Membuat rumah Betang di teluk (NYRUNG UHING) yaitu di Perbatasan sungai tumbang/Murara Masao, dan Muara sungai kunyi, karena menurut kepala suku di situ tempat yang tepat untuk mendirikan sebuah Huma Betang, guna untuk berkumpulnya semua’ warga dan dalam satu rumah Betang sebagai benteng pertahanan dimana tempat perkumpulan umat’ dari berbagai suku agama ras dan golongan, laksana saudara kandung.
Pada saat upacara bercocok tanam/manugal, di satu ladang yang besar semua warga berkumpul dan di komando oleh Ketua suku, dan sebagian warga naik ke atas bukit untuk menyanggul sebagai mata-mata,
kayau Kenyah dan kayu penyabung yang datang dari arah Kalimantan Timur.
Ngayau merupakan ritual Pemburuan kepala oleh Suku Dayak yang mendiami pulau Kalimantan, baik Dayak yang tinggal di Kalimantan tengah maupun Kalimantan lainnya. Pada praktik Ngayau yang sesungguhnya, Ngayau tidak lepas dari korban kepala manusia dari pihak musuh. Citra yang paling populer tentang Kalimantan selama itu adalah yang berkaitan dengan berburu kepala. Karya Carl Bock, The Head Hunters of Borneo yang diterbitkan pada tahun 1882 banyak menyumbang terhadap terciptanya citra Dayak sebagai “orang-orang pemburu kepala.
Berkat kerjasama dan kekompakan dari berbagai suku Dayak Barito ngaju, yang juga di bantu oleh para tokoh Dayak seperti temanggung, dan sesepuh Dayak Kalimantan tengah maka warga Dayak Barito, berhasil mengusir penjajah dari pasukan kayau penyabung dan Kenyah sehingga mereka pun mengalami kegagalan bahkan tidak sedikit dari jumlah Ngayau tersebut yang cuma pulang nama tanfa jasad, ” ujarnya (Alm) Saligi depuk silam, Pada 12 02 1996.
Temenggong Koh Anak Jubang (kiri) panglima perang dari suku Dayak Iban dengan kepala musuh di belakangnya.[1]
Praktik berburu kepala adalah salah satu bentuk komplek perilaku sosial dan sudah memancing munculnya beragam penjelasan dari berbagai penulis, baik dari kalangan “penjelajah” maupun kalangan akademisi. [Longking]

