Ada Tangis di Balik Senyuman, Sutrisno, S.T. Ajak Masyarakat Murung Raya Hidupkan Kepedulian dan Gotong Royong

Kegiatan pemerintah

Berita10909 Dilihat

MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Kalimat puitis namun menghunjam itu dilontarkan Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Murung Raya, *Sutrisno, S.T.,* dalam sebuah refleksi mendalam tentang kondisi sosial masyarakat di Bumi Tana Malai Tolung Lingu. Sabtu, 31/10/2026.

Bukan sekadar retorika politik. Bagi Sutrisno, kalimat itu adalah potret jujur dari realitas sosial yang sering luput dari sorotan pembangunan fisik. Di tengah gemerlapnya program infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, masih banyak warga yang menyembunyikan beban hidup di balik wajah yang tersenyum.

Politisi yang membidangi *Pertanian dan Perindustrian* ini melihat ada paradoks pembangunan. Di satu sisi, Murung Raya bergerak maju dengan potensi pertanian dan industri rakyatnya. Di sisi lain, nilai-nilai empati dan solidaritas perlahan tergerus oleh arus individualisme digital.

“Kemajuan sektor pertanian dan perindustrian akan kehilangan maknanya jika kita kehilangan kepekaan sebagai manusia,” ujar Sutrisno dengan nada teduh namun tegas.

### Tiga Dimensi Berbagi Ala Sutrisno

Dalam pandangannya, konsep berbagi harus diredefinisi secara lebih holistik dan humanis. Sutrisno membaginya ke dalam tiga dimensi yang saling terkait:

*1. Berbagi Senang, Berbagi Berkah:* Tidak menunggu kaya untuk memberi. Kepedulian adalah kewajiban moral, bukan sisa dari kelebihan harta.

*2. Berbagi Kehadiran:* Hadir secara fisik dan emosional saat tetangga, petani, atau pelaku UMKM tertimpa musibah, kesulitan, dan kesusahan. Kehadiran adalah bentuk dukungan paling otentik.

*3. Berbagi Pemikiran:* Yang seringkali paling dilupakan. Berbagi ide, masukan, pendapat, dan solusi. Mendengarkan keluh kesah warga adalah bentuk penghormatan terhadap martabat mereka.

“Kita harus peka. Ada tangis di balik senyuman tetangga kita. Mungkin hari ini mereka tersenyum, tapi di rumah mereka sedang kesulitan. Maka saya mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan rasa kepedulian, berbagi senang, berbagi berkah, dan yang tidak kalah penting berbagi pemikiran dan masukan pendapat,” tuturnya.

### Gotong Royong Sebagai Infrastruktur Sosial

Sutrisno yang selama ini dikenal dekat dengan kelompok tani dan pelaku industri kecil menengah melihat bahwa petani dan pengrajin lokal adalah kelompok yang paling sering “menangis dalam diam”. Mereka adalah tulang punggung ketahanan pangan dan ekonomi, namun seringkali paling rentan dan paling senyap saat kesulitan.

“Jangan menunggu kaya untuk berbagi. Berbagi pemikiran, masukan pendapat, tenaga, dan doa itu juga sangat penting,” tegasnya.

Menurut analisisnya, gotong royong bukan sekadar tradisi, melainkan _social infrastructure_ atau infrastruktur sosial yang harus dibangun setara dengan infrastruktur fisik. Tanpa infrastruktur sosial yang kuat, pembangunan pertanian dan perindustrian akan rapuh.

“Budaya gotong royong dan tepo seliro harus terus dihidupkan kembali di tengah era modernisasi. Kepedulian adalah pupuk terbaik untuk mewujudkan Murung Raya yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kuat secara sosial dan bermartabat secara kemanusiaan,” tambahnya.

Di akhir refleksinya, Sutrisno menyampaikan pesan yang mendalam dan menjadi pengingat kolektif:

“Berbagi itu tidak akan membuat kita miskin. Justru dengan berbagi, rezeki dan berkah akan semakin bertambah. Mari kita jaga Murung Raya ini dengan hati yang peduli, dari sawah hingga ke industri.”

Sebuah ajakan yang melampaui sekat-sekat politik, menuju pada satu tujuan: *Menuju Murung Raya Maju, Rakyat Sejahtera* – sejahtera lahirnya, sejahtera batinnya. [Longking]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *