MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Pemerintah Kabupaten Murung Raya mulai mengambil langkah serius dalam menghadapi dampak kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah. Senin, 14/09/2026.
Kondisi tersebut ditandai dengan menurunnya ketersediaan air bersih serta meningkatnya ancaman kabut asap akibat kekeringan dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Bupati Murung Raya, Heriyus Midel Yoseph, S.E., memimpin rapat pembahasan rencana penetapan status siaga kemarau dan kekeringan yang berlangsung di Aula Setda A, Senin (14/9/2026) pukul 09.00 WIB.
Rapat tersebut dihadiri kepala organisasi perangkat daerah (OPD) lingkup Pemerintah Kabupaten Murung Raya, para camat, unsur TNI-Polri, serta pemangku kepentingan terkait.
Dua Ancaman Utama: Kabut Asap dan Krisis Air
Dalam arahannya, Bupati Heriyus menegaskan bahwa kondisi kemarau yang terjadi saat ini sudah cukup mengkhawatirkan.
Pemerintah daerah memberikan perhatian khusus terhadap dua persoalan utama, yakni kabut asap dan semakin menurunnya ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
“Status ini sudah cukup berat, sudah parah. Yang pertama masalah asap dan juga masalah air. Saya minta laporan dari para camat terkait kondisi di wilayah masing-masing,” tegas Heriyus.
Menurutnya, penurunan debit air mulai terlihat pada sejumlah sungai kecil. Bahkan, sebagian sumur bor milik masyarakat dilaporkan mulai mengering.
“Yang kita khawatirkan sekarang air. Sungai-sungai kecil sudah hampir tidak ada, begitu juga sumur bor, banyak yang sudah kering,” katanya.
Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak langsung terhadap pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya di wilayah yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Curah Hujan Rendah, Hari Tanpa Hujan hingga 60 Hari
Dalam rapat tersebut turut dipaparkan data pemantauan kekeringan yang mengacu pada sejumlah indikator, mulai dari kondisi meteorologis dan hidrologis, dampak sosial, kebutuhan masyarakat, kapasitas daerah, hingga rekomendasi penetapan status.
Berdasarkan data BMKG Stasiun
Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut per 10 September 2026, sebagian wilayah Murung Raya mengalami hari tanpa hujan (HTH) dengan kategori sangat pendek, yakni 1–5 hari. Namun, sebagian wilayah lainnya telah masuk kategori sangat panjang, yakni 31–60 hari tanpa hujan.
Sementara itu, analisis curah hujan Dasarian I September 2026 menunjukkan curah hujan di sejumlah wilayah berada pada kategori rendah, yakni berkisar 0–50 milimeter.
Kondisi tersebut turut berdampak terhadap penurunan muka air di sejumlah titik.
Tim dalam rapat juga memaparkan kondisi terkini di Dermaga Tumbang Lahung, Kecamatan Permata Intan, per 14 September 2026, serta Dermaga Putir Sikan, Puruk Cahu, berdasarkan pemantauan per 12 September 2026.
Bupati Minta Pengawasan Sumber Air Diperkuat
Selain persoalan kekeringan, Bupati Heriyus turut menyoroti aktivitas penambangan di sekitar aliran sungai yang berpotensi memengaruhi kualitas maupun kuantitas sumber air masyarakat.
Ia meminta para camat untuk meningkatkan pemantauan di wilayah masing-masing dan segera melaporkan apabila ditemukan aktivitas yang dinilai dapat mengancam keberlangsungan sumber air yang menjadi kebutuhan masyarakat.
“Kalau ada aktivitas yang mengancam sumber air masyarakat, segera laporkan,” tegasnya.
Perkuat Distribusi Air dan Penanganan Karhutla
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kabupaten Murung Raya akan memperkuat koordinasi lintas sektor serta menyiapkan sejumlah langkah menghadapi dampak kemarau.
Beberapa langkah yang menjadi perhatian antara lain:
Memperkuat distribusi air bersih bagi masyarakat di wilayah terdampak kekeringan.
Meningkatkan patroli dan kesiapsiagaan karhutla, terutama di wilayah yang memiliki potensi kebakaran.
Memperkuat koordinasi lintas sektor dalam pemantauan dan mitigasi dampak kekeringan.
Memantau kondisi sumber air dan debit sungai secara berkala.
Meminta laporan kondisi wilayah dari para camat sebagai bahan pengambilan kebijakan pemerintah daerah.
Pemerintah Kabupaten Murung Raya menegaskan akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi di lapangan.
Langkah cepat dan terkoordinasi diperlukan agar dampak kemarau panjang dapat ditekan serta kebutuhan dasar masyarakat, terutama air bersih, tetap terpenuhi.
Pemkab juga mengimbau seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla dan menggunakan air secara bijak selama kondisi kemarau masih berlangsung. [Longking]

