Bendungan Air Bersih Muara Tuhup Terancam Karhutla, H. Liangsoi Ajak Warga Bersatu Padamkan Api

Kecelakaan alam

UTAMA7662 Dilihat

MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali mengancam permukiman dan fasilitas vital warga di Kabupaten Murung Raya. Senin, 14/09/2026.

Kali ini, kobaran api dilaporkan mendekati kawasan Bendungan Air Bersih Muara Tuhup, yang menjadi salah satu sumber kebutuhan air bagi masyarakat setempat.

Situasi tersebut membuat warga bergerak cepat melakukan upaya pemadaman dan pencegahan agar api tidak semakin meluas serta mengancam fasilitas vital tersebut.

Di tengah kondisi darurat, H. Liangsoi, Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Murung Raya, bersama warga, pemuda, tokoh adat, dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) turut turun langsung ke lapangan untuk membantu mengendalikan kobaran api.

Dengan peralatan seadanya, warga bergotong royong membuat pembatas api, memadamkan titik-titik bara, serta melakukan pendinginan di sekitar kawasan bendungan.

“Ini bukan soal siapa yang punya pangkat. Ini soal siapa yang punya hati. Ketika sumber hidup kita diserang api, maka kita semua wajib menjadi pemadam,” tegas H. Liangsoi, Minggu malam (13/9/2026).

Warga Bergerak Cepat

Kondisi di sekitar bendungan sempat membuat warga khawatir. Asap tebal dan kobaran api terlihat di sekitar kawasan yang menjadi sumber air bersih masyarakat.
Salah seorang warga, Lusia, melalui media sosial menggambarkan kepanikan warga ketika api mulai terlihat di sekitar bendungan.

“Kami tidak tahu bagaimana awalnya. Tiba-tiba asap sudah tebal sekali dan api besar di dekat bendungan. Kami panik, tetapi warga langsung mengambil apa saja untuk memadamkan api sambil cepat-cepat melapor,” tulisnya.

Laporan masyarakat kemudian mendapat respons dari tim gabungan yang turut datang ke lokasi untuk memperkuat upaya pemadaman dan pendinginan hingga malam hari.

Hingga saat ini, penyebab munculnya api masih dalam penyelidikan. Masyarakat diimbau tetap waspada mengingat kondisi cuaca dan lahan yang relatif kering sehingga berpotensi mempercepat penyebaran api.

Dorong Sistem Pencegahan Karhutla
Setelah kondisi api berhasil dikendalikan, H. Liangsoi mendorong agar kejadian tersebut tidak hanya dipandang sebagai persoalan pemadaman, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat sistem pencegahan Karhutla di tingkat desa.

Ia meminta Pemerintah Desa dan BPD Muara Tuhup mempertimbangkan sejumlah langkah, di antaranya mengaktifkan posko siaga Karhutla selama musim kemarau, membentuk relawan desa yang siap membantu ketika terjadi kebakaran, serta memperkuat pengawasan di sekitar bendungan dan kawasan rawan kebakaran.

Selain itu, patroli masyarakat dan pemasangan rambu larangan membakar lahan juga dinilai penting untuk mencegah terjadinya kebakaran.

“Alat boleh terbatas, tetapi sistem kita tidak boleh. Jangan sampai kita baru sadar pentingnya air setelah bendungan kita terbakar,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat serta penegakan aturan terhadap praktik pembukaan lahan dengan cara membakar yang dapat memicu Karhutla dan membahayakan kepentingan masyarakat luas.

Bendungan Berhasil Diselamatkan
Berkat kerja sama dan gotong royong warga bersama tim gabungan, api di sekitar kawasan bendungan berhasil dikendalikan. Fasilitas air bersih tersebut pun dapat diselamatkan sehingga pelayanan air kepada masyarakat tetap berjalan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap fasilitas vital membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Bagi warga Muara Tuhup, penyelamatan bendungan bukan sekadar upaya memadamkan api, tetapi juga menjaga keberlangsungan sumber air dan kehidupan masyarakat.

Gotong royong yang ditunjukkan warga menjadi bukti bahwa dalam menghadapi ancaman Karhutla, kepedulian dan kebersamaan masyarakat menjadi kekuatan penting untuk melindungi lingkungan serta fasilitas umum. [Longking]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *