Cerita Rakyat Desa Muara Tupuh Kebupaten Murung Raya

Adat budaya leluhur

SENI BUDAYA1246 Dilihat

MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Cerita rakyat ini berasal dari sebuah desa yang bernama Desa Muara Tupuh, Kecamatan Laung Tuhup, Kabupaten Murung Raya, Provinsi Kalimantan Tengah.

Di situ terdapat sebuah batu bersusun yang menyerupai sebuah bendungan atau membentang di Sungai Papar Laung. Konon batu ini disusun oleh Ujung, seorang pemuda yang memiliki saudara perempuan bernama Suli. Ujang dan Suli telah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya.

Mereka hidup di hutan, menggantungkan kehidupan mereka dari aktivitas berladang, menamam sayur-sayuran dan buah-buahan. Terkadang Ujang pergi berburu untuk mencari rusa, babi, kijang, ataupun hewan-hewan lain yang bisa dijadikan lauk. Ujang tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang berparas tampan, gagah perkasa dan memiliki ilmu kedigjayaan yang diturunkan oleh kedua orang tuanya. Demikian pula dengan Suli yang tumbuh menjadi serorang gadis cantik jelita, anggun dan berilmu tinggi pula.

Pada suatu hari Ujang pergi ke dalam hutan untuk mencari daun palas yang akan dijadikan sebagai atap gubuk tempat mereka berdua tinggal. Sebelum pergi, Ujang berpesan kepada adiknya untuk memasak nasi, memetik sayuran di ladang dan memasaknya, serta memasak rusa hasil buruannya kemarin sore.

Sebagai adik yang menurut kepada kakaknya Suli menyanggupi semua perintah kakaknya. Ia pun mengantarkan kepergian kakaknya dengan senyuman. Berangkatlah Ujung ke dalam hutan untuk mencari daun palas. Setelah matahari berada di tengah-tengah kepalanya dan merasa bahwa daun palas yang dicarinya sudah cukup banyak, Ujung pun memutuskan untuk pulang ke gubuknya. Sesampai di gubuknya, Ujang melihat suasana gubuknya yang terlihat sunyi dan sepi. Ia mengira Suli sedang sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk makan siang mereka berdua.

Namun ketika ia masuk ke dalam rumah, ia justru melihat Suli yang tengah duduk merenung di dapur sambil memainkan rambutnya yang hitam panjang. Ujung memerintahkan Suli untuk menyiapkan segera menyiapkan makanan, sementara ia pergi mandi ke sumur yang ada di belakang gubuk mereka. Setelah selesai mandi, Ujang mendapati adiknya yang sedang menyiapkan makanan. Ia sangat terkejut karena Suli hanya memasak sedikit nasi. Lantas ia bertanya kepada adiknya, kenapa hanya memasak sedikit nasi. Suli tidak menjawab, ia hanya tersenyum seraya mengajak kakaknya makan bersama.

Dengan perasaan yang diliputi tanda tanya, Ujang segera menyantap nasi tersebut, kebetulan ia merasa sangat lapar setelah mencari daun palas di hutan. Selesai makan Suli membereskan piring-piring, mangkok dan gelas, lalu mencucinya di sumur belakang gubuk mereka. Sementara Ujung pergi ke ladang untuk melihat-lihat keadaan tumbuhan yang hidup di ladang milik mereka. Demikianlah terjadi kejadian yang sama keesokan harinya. Ujung bertugas memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka dengan berladang dan berburu, serta sesekali mencari bahan-bahan di hutan untuk memperbaiki gubuk mereka. Sementara Suli adiknya mempersiapkan makanan dan mengurusi pekerjaan rumah lainnya di rumah.

Ketika hendak berangkat ke hutan mencari daun palas seperti hari sebelumnya, Ujang lagi-lagi berpesan kepada adiknya supaya adiknya itu memasak nasi dengan sayur dan lauk yang banyak. Di dalam hutan, Ujung mencari daun palas tanpa kenal lelah. Ia membutuhkan daun palas dalam jumlah yang banyak untuk atap gubuk mereka yang sudah harus segera memutuskan untuk pulang, meskipun daun-daun palas yang di dapatnya sekarang belum cukup untuk atap rumah mereka. Setelah berjalan cukup lama ia sampai di halaman gubuknya kembali. Sama seperti hari sebelumnya, gubuk itu tampak sunyi dan sepi.

Ia diganti. Setelah beberapa saat Ujung mencari daun palas ia pun merasa sangat lelah dan lapar. Ia pun masuk dan mendapati adiknya Suli sedang duduk merenung sambil menyisir rambutnya yang hitam panjang. Tanpa menegur Suli, Ujungpun langsung pergi untuk mandi dan berpakaian. Ketika ia memerintahkan Suli menyiapkan makanan, ia mengamati Suli hanya menyiapkan makanan,” cerita bersambung pada halaman berikutnya. [Longking]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *