BENGKULU SELATAN/SEMAKU.net-Septi Afrida SSos camat kota Manna saat ingin dikonfirmasi oleh sejumlah awak media, beliau malah mengusir wartawan. Hal itu dia lakukan dengan alasan dirinya tidak menggunakan baju dinas sehingga mengusir para wartawan pada Jumat ,14/01/2022.
Namun setelah berganti baju dinas, Septi mempersilakan sejumlah awak media untuk mewancarai dirinya. ” Apa yang harus jelaskan? Silahkan sampaikan!”, ucapnya.
Ketika para wartawan menanyakan perihal ketidakdisiplinan pegawai kecamatan yang dipimpinnya dimana waktu jam kerja tidak berada di tempat (kantor camat), Septi mengungkapkan.
“Jujur saya katakan, habis apel pagi saya sampaikan kepada pegawai yang di kantor sekaligus bawahan saya,” kita sebagai pegawai negeri ini kita digaji oleh pemerintah. Jadi kita harus disiplin jangan kita mengabaikan tugas dan fungsi kita sebagai pegawai yang melayani masyarakat. Namun mereka gak mau nurut juga dengan omongan saya, ya, saya tinggal terserah mereka,” tutur Septi.

Menurut Septi terkait penyampaian disiplin pegawai ini, bukan hanya dia saja yang menyampaikan, bahkan Bupati Bengkulu Selatan Bapak Gusnan Mulyadi juga sudah memberikan arahannya. ” Tampaknya pegawai di kantor ini kurang peduli juga,” tegasnya.
Ditanya tentang sinergisitas antara pihak kecamatan kota Manna dengan pihak media, Septi mengatakan” kami hanya bersinergi dengan media RB, dengan Rasel saja”.
ketika awak media menanyakan mengapa tidak menjalin kerjasama dengan media lain (online), kata dia” kalau media online itu tidak ada anggarannya”. Sampainya.
Dalam kesempatan itu Septi malah menganjurkan agar media online bermitra (kerjasama publikasi pemberitaan) dengan pihak desa.
“Nanti saya menelpon kepala desa agar media – media itu saja, dan saya bisa menyuruh kepala desa yang mana bawahan saya agar menjalin kerjasama dengan media yang saya kasih (rekomendasi)”. Tutupnya.
Menanggapi ucapan Camat kota Manna, Wadimin putra daerah setempat mengatakan seorang pejabat publik itu tidak layak berkata arogan seperti itu.
“Kalau pejabat berkata seperti itu, apa lagi seorang camat sampai mengintervensi kepala desa seperti itu sangat luar biasa. Menempati jabatan camat saja sudah begitu, apalagi kalau jadi kepala dinas, tambah lebih angkuh,” ujar Wadimin. [red….dya]

