Kades Olung Balo Liyus Pikal Tegaskan Jalan dan Jembatan Jadi Prioritas Utama di Tengah Penurunan Dana Desa 2026

Kegiatan pemerintah desa

UTAMA6840 Dilihat

MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Di tengah dinamika kebijakan nasional yang berdampak pada menurunnya pagu Dana Desa (DD) APBN Tahun Anggaran 2026, Kepala Desa Olung Balo, Kecamatan Tanah Siang, *Liyus Pikal*, menunjukkan prinsip kepemimpinan yang tangguh, visioner, dan pro-rakyat. Senin, 26/10/2026.

Dengan tegas, Liyus Pikal menyatakan bahwa pembangunan infrastruktur dasar, khususnya jalan cor yang bersumber dari Dana Desa (DDS) dan jembatan desa, tetap menjadi skala prioritas utama yang tidak dapat ditunda.

“Di tengah menurunnya Dana DD, saya berkomitmen bahwa pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan harus diutamakan bagi kepentingan transportasi umum. Prioritas ini sudah menjadi prinsip kepemimpinan di tingkat desa yang mandiri dan berdaulat,” tegas Liyus Pikal kepada awak media.

*Infrastruktur Adalah Urat Nadi Desa*

Bagi Liyus Pikal, jalan dan jembatan bukan sekadar bangunan fisik, melainkan urat nadi kehidupan masyarakat. Ketersediaan akses yang layak akan membuka isolasi wilayah, memperlancar mobilitas warga, mempercepat distribusi hasil pertanian dan perkebunan, serta memastikan akses layanan dasar pendidikan dan kesehatan dapat dinikmati secara merata.

Ia menilai, pemimpin desa yang baik adalah pemimpin yang mampu membaca kebutuhan mendesak masyarakat, bukan sekadar mengejar proyek seremonial.

*Transparansi dan Efektivitas di Tengah Keterbatasan*

Menyikapi penurunan anggaran, Kades Olung Balo menekankan pentingnya tata kelola keuangan desa yang profesional, akuntabel, transparan, dan tepat sasaran. Setiap rupiah Dana Desa harus dikelola dengan prinsip efektivitas dan efisiensi untuk menghasilkan manfaat maksimal bagi publik.

Menurutnya, keterbatasan anggaran bukanlah alasan untuk berhenti membangun, melainkan momentum untuk meningkatkan kreativitas, inovasi, dan semangat gotong royong bersama masyarakat.

“Semangat membangun harus tetap menyala. Kita buktikan bahwa desa yang mandiri mampu berdikari meski dalam keterbatasan. Inilah esensi dari membangun Indonesia dari pinggiran,” pungkasnya. [Longking]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *