Kisah Haru Neny Karmila, Guru Honorer PAUD Tumbang Masao: Mengajar Dengan Kasih, Mengabdi Tanpa Batas

Kegiatan pemerintah

PENDIDIKAN4242 Dilihat

MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Di pelosok Desa Tumbang Masao, Kabupaten Murung Raya, terdapat sosok guru yang menjalani pengabdian dengan penuh ketulusan. Sabtu, 03/10/2026.

Ia adalah Neny Karmila, guru honorer TK/PAUD yang tetap setia mendidik anak-anak meski hingga kini belum mendapatkan kesempatan menjadi guru PNS maupun PPPK.

Bagi Neny, mengajar bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi bagian dari pengabdian dan kecintaan terhadap dunia pendidikan anak usia dini.

Sosoknya dikenal ramah, murah senyum, sabar, dan penuh kehangatan. Senyum serta kelembutannya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseharian anak-anak di sekolah. Ia tidak hanya menjadi seorang pendidik, tetapi juga sosok yang mampu memberikan rasa nyaman dan kasih sayang kepada para murid.

Dalam menjalankan tugasnya, Neny berusaha memperlakukan seluruh anak secara adil tanpa membeda-bedakan. Dengan kesabaran dan kasih sayang, ia membimbing, mendidik, sekaligus mendampingi anak-anak dalam mengenal dunia pendidikan sejak usia dini.

Baginya, setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, pendekatan yang dilakukan bukan hanya melalui pembelajaran, tetapi juga dengan perhatian, kelembutan, dan keteladanan.

Ketulusan tersebut membuat kehadiran Neny begitu dekat dengan anak-anak. Mereka terlihat nyaman dan ceria saat berada di sekolah. Kehangatan yang diberikan juga mendapat apresiasi dari para orang tua atau wali murid serta masyarakat di sekitar lingkungan sekolah.

Di balik kesederhanaannya, Neny tetap memegang teguh prinsip untuk menjalankan pengabdian dengan ikhlas. Meski status sebagai guru honorer belum berubah, semangatnya untuk mengajar tidak pernah surut.

Hingga saat ini, ia belum memperoleh kesempatan untuk menjadi guru PNS maupun PPPK. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti mengabdi. Ia memilih untuk tetap berdiri di depan kelas, mendampingi anak-anak dan memberikan yang terbaik sesuai kemampuannya.

“Sebagai pengabdian, saya tidak pernah iri. Saya hanya berharap, suatu saat nanti keberuntungan akan datang pada waktunya,” ucap Neny lirih, menyimpan harapan agar suatu hari pengabdiannya mendapat perhatian dan kesempatan yang lebih baik.

Kisah Neny Karmila menjadi gambaran bahwa pengabdian seorang guru tidak selalu diukur dari status atau jabatan. Di tengah keterbatasan, masih ada sosok pendidik yang memilih bertahan karena kecintaan terhadap anak-anak dan dunia pendidikan.

Dengan kesabaran, ketulusan, dan kasih sayang, Neny terus menanamkan dasar-dasar pendidikan kepada generasi kecil di Tumbang Masao.

Mengajar dengan hati, mendidik dengan kasih, dan mengabdi tanpa batas demi masa depan anak-anak Murung Raya. [Longking]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *