Musim Tugal Tiba, Distanik Murung Raya Fokus Dampingi Petani Tanah Gunungan Dengan Strategi Adaptif

Kegiatan pemerintah

EKONOMI7851 Dilihat

MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Menjelang musim tugal atau musim tanam padi gunung, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanik) Kabupaten Murung Raya memberikan perhatian khusus terhadap petani tanah gunungan yang menjadi salah satu penopang ketahanan pangan masyarakat di wilayah pedalaman. Sabtu, 19/09/2026.

Kepala Distanik Kabupaten Murung Raya, Sri Karyawati, S.P., M.Si., mengatakan pihaknya terus melakukan pembinaan dan pendampingan kepada para petani, khususnya petani ladang di wilayah perbukitan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap curah hujan serta penerapan kearifan lokal dalam kegiatan pertanian.

“Petani tanah gunungan adalah salah satu kekuatan pangan kita. Di tengah kondisi kemarau, mereka menghadapi tantangan yang cukup berat. Karena itu, penerapan budidaya harus dilakukan secara cermat dan adaptif, dengan tetap berpegang pada semangat Handep Haduhup,” ujar Sri Karyawati.

Menurutnya, keterbatasan akses akibat kondisi kemarau, kabut asap, serta sulitnya transportasi sungai menyebabkan sejumlah desa pedalaman belum dapat dijangkau secara langsung oleh petugas.

Untuk mengatasi kendala tersebut, Distanik Murung Raya berupaya memberikan penyuluhan dan bimbingan teknis (bimtek) secara daring melalui media online.

“Atas ketidaknyamanan ini, kami mohon maaf dan mohon dimaklumi. Ada beberapa kecamatan dan desa pedalaman yang belum bisa kami kunjungi karena dampak kemarau panjang. Namun, kami tetap berusaha memberikan penyuluhan dengan berbagai cara,” katanya melalui WhatsApp.

Sri Karyawati menjelaskan, terdapat sejumlah langkah yang perlu diperhatikan petani tanah gunungan dalam menghadapi musim tanam, terutama di tengah kondisi cuaca yang cenderung kering.

Pertama, pemilihan dan pengelolaan lahan. Petani dianjurkan memilih lahan dengan kemiringan sedang serta melakukan pembersihan lahan secara bijak tanpa pembakaran yang berlebihan.

Sekat bakar dan terasering sederhana juga dapat diterapkan untuk membantu mencegah erosi serta mempertahankan kelembapan tanah.
Kedua, penggunaan benih padi gogo yang adaptif.

Petani disarankan menggunakan varietas padi gogo lokal atau varietas yang sesuai dengan kondisi setempat, terutama yang memiliki umur relatif pendek dan mampu beradaptasi terhadap kondisi kering serta tanah masam di wilayah perbukitan.
Ketiga, penerapan teknik tugal secara gotong royong.

Penanaman dapat dilakukan secara serentak dengan semangat Handep Haduhup. Lubang tugal dibuat dengan kedalaman sekitar 3–5 sentimeter, kemudian diisi benih sesuai rekomendasi teknis agar pertumbuhan tanaman tetap optimal pada kondisi tanah yang relatif kering.

Keempat, konservasi air dan tanah. Petani dapat membuat rorak atau lubang resapan di sekitar lahan serta memanfaatkan sisa dedaunan sebagai mulsa alami untuk membantu menjaga kelembapan tanah dan mengurangi penguapan air.

Kelima, penerapan pola tumpang sari. Tanaman seperti jagung, kacang tanah, labu, dan timun dapat ditanam di sela-sela tanaman padi gunung sesuai kondisi lahan. Selain menjadi sumber pangan tambahan, pola tersebut juga dapat membantu meningkatkan pemanfaatan lahan.

“Di tanah gunungan, kuncinya adalah menjaga tanah tetap hidup. Jangan membakar secara sembarangan, jaga kandungan humus, dan kerjakan secara bersama-sama. Dengan semangat Handep Haduhup, kita berharap ladang di atas bukit tetap mampu memberikan hasil bagi masyarakat,” pungkasnya.

Distanik Kabupaten Murung Raya terus mendorong penerapan teknik budidaya yang adaptif dengan kondisi lingkungan serta pemanfaatan kearifan lokal.

Upaya tersebut diharapkan dapat membantu petani menghadapi tantangan musim kemarau sekaligus menjaga ketersediaan pangan di tingkat desa. [Longking]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *