Tradisi Nugal, Simbol Gotong Royong dan Kearifan Dayak Ije Simpei di Murung Raya

Kegiatan pemerintah

Berita9263 Dilihat

MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Tradisi bercocok tanam masyarakat Dayak di Murung Raya bukan sekadar kegiatan turun-temurun, tetapi juga menjadi bagian dari kearifan lokal yang merekatkan kebersamaan dan semangat gotong royong di tengah masyarakat. Sabtu, 03/10/2026.

Salah satu tradisi tersebut adalah Manugal (Nukan), yang mencerminkan semangat Handep Haduhup atau bekerja bersama dan saling membantu. Di ladang, seluruh masyarakat mengambil peran masing-masing tanpa memandang status maupun golongan.

Sekretaris Komisi II DPRD Murung Raya, H. Barlin, S.E., memberikan apresiasi terhadap keberadaan tradisi tersebut. Menurutnya, Nugal merupakan salah satu bentuk nyata dari nilai kebersamaan sekaligus cerminan jati diri masyarakat Murung Raya.

Dalam pelaksanaan Manugal, terdapat pembagian peran yang dilakukan secara teratur. Kaum laki-laki berada di barisan depan dengan menggunakan alat tradisional berupa kayu sepanjang sekitar 1,5 meter dengan diameter 4 hingga 7 sentimeter. Bagian ujung kayu diruncingkan dan dalam bahasa Dayak disebut Tundang.

Dengan menggunakan Tundang, mereka membuat lubang pada tanah secara serentak dan penuh kekompakan. Setelah itu, kaum perempuan mengikuti dari belakang dengan membawa benih padi menggunakan bakul anyaman rotan yang disebut Tempa atau Sempa.

Benih padi kemudian dimasukkan ke dalam lubang yang telah dibuat. Dalam tradisi setempat, benih dimasukkan dengan hitungan ganjil, yakni sekitar tiga hingga lima biji dalam setiap lubang, sebagai bagian dari kearifan dan harapan masyarakat terhadap keberkahan serta hasil panen yang baik.

Sebelum kegiatan Nugal dimulai, masyarakat biasanya berkumpul di sebuah pondok di sekitar ladang yang berdekatan dengan sumber air bersih. Tempat tersebut dikenal dengan sebutan Tampalang.

Di Tampalang, masyarakat melaksanakan doa bersama dan makan bersama sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Setelah itu, benih padi secara adat didinginkan melalui ritual Palas Binyi yang dilakukan menggunakan telur oleh tokoh adat setempat.

Kebersamaan juga terlihat saat waktu istirahat tiba. Pemilik ladang biasanya mengajak seluruh warga beristirahat sejenak sambil menikmati kopi dan hidangan sederhana dalam suasana penuh keakraban dan kekeluargaan.

Kemeriahan tradisi Nugal semakin terasa dengan adanya Haburing, yakni tradisi saling mengoleskan arang bekas pembakaran ke wajah, khususnya di kalangan kaum muda. Tradisi tersebut menjadi bagian dari suasana kebersamaan, canda, penghormatan, dan sukacita dalam kegiatan Nugal.

Bagi masyarakat Dayak Ije Simpei, yang dimaknai sebagai satu hati, satu rasa, dan satu tujuan, rangkaian tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pertanian.

Lebih dari itu, Nugal menjadi ruang untuk memperkuat hubungan sosial, menjaga nilai-nilai adat, serta mewariskan budaya kepada generasi berikutnya.

“Inilah Murung Raya yang kita cintai. Nugal bukan hanya menanam padi, tetapi menanam nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan cinta pada adat budaya. Jika ini terus kita jaga, Murung Raya akan kuat pangan, kuat budaya, dan kuat persaudaraan,” ujar H. Barlin.

Ia berharap tradisi Nugal dan nilai-nilai Handep Haduhup tetap dipertahankan di tengah perkembangan zaman, sehingga generasi muda tidak hanya mengenal budaya leluhur, tetapi juga ikut menjaga dan melestarikannya.

Dengan demikian, Nugal tidak hanya menjadi bagian dari siklus bercocok tanam masyarakat, tetapi juga menjadi warisan budaya yang menyatukan masyarakat melalui semangat gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap adat Dayak di Murung Raya. [Longking]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *