Wakil Ketua Komisi II DPRD Murung Raya H. Johansyah: Anggaran Boleh Turun, Semangat Gotong Royong Tak Boleh Runtuh

Kegiatan pemerintah

POLITIK9721 Dilihat

MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Di tengah situasi ekonomi yang terjepit akibat turunnya anggaran dana dari pemerintah pusat dan daerah, sebuah pemandangan yang mengharukan justru tumbuh subur di Bumi Tana Malai Tolung Lingu. Rabu, 04/11/2026.

Budaya tradisi gotong royong dan kerja bakti kembali terjalin erat antara pemerintah dan masyarakat, baik di tingkat kabupaten, kota, kecamatan, hingga di beberapa desa pedalaman.

Menanggapi fenomena ketahanan budaya ini, *Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Murung Raya, H. Johansyah, S.E., M.I.P.,* menyampaikan perasaan bangganya dengan penuh haru.

Menurutnya, kondisi anggaran yang terbatas tidak boleh menjadi alasan untuk menghambat jalannya pelayanan dan kebersamaan. Justru, di saat anggaran turun, kekuatan sejati sebuah daerah akan terlihat: apakah ia bergantung pada uang, atau pada kekuatan manusianya.

“Anggaran boleh turun, tapi semangat gotong royong kita tidak boleh runtuh. Saya sangat bangga melihat di tengah situasi yang terjepit seperti ini, budaya kerja bakti kembali hidup dan terjalin kuat antara pemerintah dan masyarakat. Ini membuktikan bahwa Murung Raya memiliki modal sosial yang jauh lebih berharga dari sekadar angka-angka anggaran,” ujar H. Johansyah.

Selaras dengan prinsip-prinsip kepemimpinan di tingkat ujung tombak pemerintahan, *Kepala Desa Tumbang Masao, Kecamatan Sumber Barito, Salim Ismail, S.I.P.,* turut menunjukkan keteladanan dengan memimpin langsung aksi kerja bakti di desanya.

Menurut Salim Ismail, kegiatan kerja bakti seperti pembersihan badan jalan, termasuk wilayah Pemakaman Umum (PU), merupakan sebuah keharusan bagi kita sebagai warga dan sebagai pemimpin di desa.

> “Bagi kami, membersihkan jalan dan area pemakaman umum bukan hanya soal fisik, tapi soal adab dan penghormatan. Jalan adalah urat nadi kehidupan warga, pemakaman adalah tempat peristirahatan terakhir para leluhur kita. Merawat keduanya melalui gotong royong adalah kewajiban moral,” tutur Salim Ismail.

Kegiatan gotong royong di Desa Tumbang Masao ini semakin bermakna karena dihadiri dan diikuti oleh seluruh unsur pilar desa secara lengkap, yang mencerminkan sinergi yang utuh:

Turut hadir dalam partisipasi gotong royong tersebut, *Kepala Desa Salim Ismail, Mantir Adat Efendy, Kader Posyandu Fatmawati, serta Aparatur Pemerintah Desa, BPD, beserta seluruh masyarakat setempat.*

Kehadiran Mantir Adat sebagai penjaga nilai-nilai luhur, Kader Posyandu sebagai garda terdepan kesehatan, bersama pemerintah desa dan BPD, menunjukkan bahwa gotong royong adalah ruang pertemuan bagi semua elemen, tanpa sekat.

Pesan yang disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi II dan aksi nyata dari Kepala Desa Tumbang Masao ini menjadi cerminan yang indah. Bahwa di Murung Raya, ketika negara sedang berhemat, rakyat justru semakin erat. Gotong royong bukan lagi sekadar tradisi masa lalu, melainkan strategi ketahanan masa depan. [Longking]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *