MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Musim kemarau membuat debit Sungai Barito menyusut. Namun, kondisi tersebut justru menghadirkan suasana berbeda di sejumlah tepian sungai, termasuk di Desa Tumbang Masao, Kecamatan Sumber Barito. Jum’at, 14/08/2026.
Saat air mulai surut, warga memanfaatkan Sungai Barito untuk berbagai aktivitas. Mulai dari mandi, mencuci, bermain, hingga berkumpul bersama keluarga. Bagi masyarakat setempat, sungai bukan sekadar sumber air, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan dan ruang sosial warga.
Di tengah aliran Sungai Barito, terdapat sebuah batu yang menjadi perhatian masyarakat, yakni Batu Ingking.
Keindahan yang Menyimpan Cerita
Batu Ingking berada di tengah Sungai Barito, tepatnya di wilayah Desa Tumbang Masao. Bentuknya cukup unik dan menyerupai tungku bersegi tiga. Ukurannya yang besar dan kokoh membuat batu tersebut mudah dikenali, terutama ketika debit air sungai mulai surut.
Saat kemarau, Batu Ingking menjadi salah satu tempat yang ramai didatangi warga. Ada yang duduk bersantai, anak-anak bermain, hingga warga mengabadikan momen dengan berfoto.
Namun, daya tarik Batu Ingking bukan hanya terletak pada bentuk dan keindahannya. Bagi masyarakat Tumbang Masao, batu tersebut juga memiliki nilai sejarah dan menjadi bagian dari cerita awal perkembangan desa.
“Batu ini adalah simbol awal mula desa kita dibangun. Bentuknya seperti tungku, tempat berkumpul, tempat memasak, tempat bercerita. Dari sinilah orang-orang dulu memulai kehidupan di Tumbang Masao.”
Hal tersebut disampaikan Neni Karlina, S.Pd, yang sehari-hari dikenal sebagai Bunda PAUD di Desa Tumbang Masao.
Menurutnya, keberadaan Batu Ingking penting dikenalkan kepada generasi muda. Bersama warga, Neni juga kerap mengajak anak-anak PAUD mengenal lingkungan sekitar, termasuk Batu Ingking, sebagai bagian dari pembelajaran tentang sejarah dan asal-usul desa.
Sungai Barito, Nadi Kehidupan Warga
Bagi masyarakat Tumbang Masao, Sungai Barito merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Ketika kemarau datang, aktivitas masyarakat di sungai semakin terlihat. Perempuan mencuci, anak-anak bermain dan belajar berenang, sementara para orang tua melakukan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari maupun aktivitas di sungai.
Di tengah aktivitas tersebut, Batu Ingking seolah menjadi titik berkumpul masyarakat. Di tempat itu, warga dapat bersantai, berbincang, berbagi cerita, sekaligus menikmati suasana Sungai Barito.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebuah desa tidak hanya dibangun oleh rumah, jalan, maupun fasilitas umum. Lebih dari itu, sebuah desa juga tumbuh dari sejarah, kebersamaan, budaya, dan tempat-tempat yang menjadi bagian dari ingatan masyarakat.
Menjaga Warisan dan Kelestarian Sungai
Keberadaan Batu Ingking sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga Sungai Barito. Kemarau panjang dapat memengaruhi kondisi sungai, sementara aktivitas manusia dan sampah berpotensi mengganggu kebersihan serta kelestarian lingkungan.
Karena itu, masyarakat berharap Batu Ingking tidak hanya dipandang sebagai tempat yang menarik ketika musim kemarau. Lebih jauh, keberadaannya perlu dijaga sebagai bagian dari sejarah dan identitas Desa Tumbang Masao.
“Mari kita jaga sungai kita. Jaga kebersihannya dan jaga ceritanya. Agar anak cucu kita nanti juga bisa duduk di Batu Ingking dan tahu dari mana mereka berasal.”
Batu Ingking bukan sekadar batu yang berada di tengah Sungai Barito. Bagi masyarakat Tumbang Masao, ia menjadi bagian dari perjalanan sejarah, tempat berkumpul, sekaligus simbol hubungan erat antara manusia, sungai, dan lingkungan.
Di tengah kemarau ketika Sungai Barito surut, Batu Ingking justru semakin terlihat.
Dan dari sebuah batu itulah, cerita tentang kehidupan serta sejarah Desa Tumbang Masao terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Reporter: Suara Akar Rumput
Batu Ingking, Jejak Sejarah dan Magnet Warga Saat Kemarau di Tumbang Masao
Kegiatan pemerintah

