MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Tentang tatacara tradisional berburu hewan dan ikan ala Dayak Barito hulu, dari masa lampau yang masih di abadikan oleh pihak masyarakat hingga zaman modern ini masih di budayakan oleh warga masyarakat Dayak, Barito, desa Tumbang topus, kecamatan Uut Murung,
kabupaten Murung Raya. Senin, 01/04/2024.
Seperti yang kami kutip dari akun Facebook, salah satu warga desa tumbang topus, Entha Alusia,
pada hari senin 01 AFRIL 2024.
Tentang tata cara berburu/mengayau hewan liar, hal ini tentunya sudah menjadi kebudayaan kegemaran warga masyarakat Dayak ngaju,
Di masa lampau hingga saat ini di Kalimantan Tengah, Terkhususnya di sungai Barito Lingkup wilayah kabupaten Murung Raya,
yang hingga sampai saat ini masih di budayakan.
“Mengingat syaratnya muatan budaya dan nilai-nilai kearifan lokal Dayak ngaju, di masa lampau terkait teknik-teknik menangkap ikan berburu binatang dan hal lainnya yang harus dipahami oleh generasi sekarang dan masa yang akan datang, terkait kebudayaan nenek moyang dan identitas diri.
Teknik-teknik menangkap ikan dan berburu di masa lampau menjunjung tinggi nilai-nilai keberlangsungan hidup di alam yang saat ini sudah mulai ditinggalkan, yaitu Teknik menangkap ikan dalam suku Dayak ngaju masa lampau, yang dibagi menjadi dua teknik yaitu menangkap ikan besar dan menangkap ikan kecil.
“Adapun teknik yang digunakan untuk menangkap ikan di kalangan suku Dayak ngaju di masa lampau adalah teknik maneser (menyelam) memancing
1: Peralatan Dayak untuk menangkap ikan besar ,
meniruk Marisai
menjujut maanyar malontang menaut manajua marawai manyawau mengarohi menuwe menyaring malanggean,
Marengge malunta, mamukat dan mamasat,
2: Sementara peralatan yang biasa digunakan untuk menangkap ikan kecil adalah bawo takalak, Pasuruan pangilar satawan tuwong, siap rangkep nyarung, tokong, sauk, dan salambau.
Selain itu bermacam-macam peralatan berburu yang digunakan di masa lampau adalah, tombak, dundang, saketong, jerat, sambulut, songga, tambowong, sumpit, panah, katapel dan, senapan angin ringan.
Teknik yang digunakan untuk berburu adalah, mandop, mengan dan mahurung, dengan membawa anjing piaraan untuk membantu pada saat berburu hewan.
Dan pada saat berburu ikan dan hewan lainnya, ada banyak tabu pantangan yang juga harus di taati, oleh warga masyarakat, dan pantangan itu pun sangat erat kaitannya dengan kepercayaan suku Dayak ngaju zaman dahulu yang mayoritas penganut kepercayaan animisme.
“Kebudayaan suku Dayak ngaju di masa lampau yang juga tidak kalah penting untuk dipahami adalah Berburu hewan,
Tidak sembarangan bahkan ada banyak peralatan yang diperlukan Dengan bermacam persyaratan khusus terkait apa saja yang boleh atau larangan, kapan dan di mana serta peralatan apa saja yang harus dibawa, hal yang tidak kalah penting sebelum dan sesudah berburu adalah tabu dan tantangan,
yang harus dipatuhi.
Tidak hanya orang yang berangkat berburu yang harus menabuhkan pantangan, bahkan keluarga yang dirumah tidak ikut berangkat pun harus mentaati menabukan pantangan tersebut, demi keselamatan mereka yang berangkat tidak kehujanan selama bepergian tidak ada aral dan halangan tidak nyasar di hutan hingga
sampai mereka yang berangkat berburu Kembali Pulang membawa ikan atau hewan dari hasil berburu,” tuturnya Etha alusia. [Longking]

