Tradisi Berburu Dayak Murung Raya: Antara Kearifan Lokal dan Ancaman Zaman

Budaya dayak

UTAMA3643 Dilihat

MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Tradisi Berburu Masyarakat Dayak, yang tersebar di kabupaten Murung Raya Kalimantan, memiliki tradisi berburu yang kaya akan kearifan lokal dan menyatu dengan kehidupan mereka sehari-hari. Berburu bukan hanya sekadar aktivitas mencari makanan, tetapi juga merupakan bagian dari budaya yang diwariskan turun-temurun. Senin, 09/06/2025.

“Imus, Salah seorang warga masyarakat Desa, Balawan, kecamatan Tanah Siang,
Mengatakan ada beberapa teknik dan alat yang digunakan, serta tantangan yang dihadapi dalam menjaga tradisi ini di era modern.

Dari sejak puluhan bahkan Ratusan tahun silam Masyarakat Dayak Sudah menggunakan berbagai alat tradisional dan teknik dalam berburu yang mencerminkan kearifan lokal,” Pungkasnya Imus Tokoh warga Desa Balawan. 

Ia juga menjelaskan tentang Beberapa alat tradisional Dayak Murung Raya, yang sering digunakan antara lain sumpit, alat ini adalah salah satu ciri khas berburu masyarakat Dayak. Sumpit terbuat dari kayu ulin yang dilobangi dengan panjang antara 2 sampai 3 meter, dilengkapi anak sumpit beracun yang dilumuri getah tumbuhan beracun. Sumpit digunakan untuk berburu binatang kecil hingga sedang, seperti burung dan monyet. Tombak dan Parang, untuk berburu hewan yang lebih besar, seperti babi hutan atau rusa. 

“Kebiasaan masyarakat Dayak sering menggunakan tombak dan parang. Tombak biasanya digunakan untuk melumpuhkan hewan dari jarak dekat. Jerat dan Perangkap, teknik jebakan juga umum digunakan, dengan berbagai jenis perangkap yang dirancang untuk menangkap hewan tertentu. Misalnya, perangkap yang dipasang di jalur yang sering dilalui oleh babi hutan atau kijang.

Sementara Para Pemburu, juga memanfaatkan anjing untuk membantu dalam berburu. Anjing-anjing ini terlatih untuk melacak dan mengejar hewan buruan, hingga memudahkan para pemburu untuk menangkap hewan buruan.

Adapun teknik dalam berburu yang biasa dilakukan Masyarakat Dayak adalah seperti mencari jejak dan memperhatikan arah angin dalam mendekati hewan buruan.” Kata imus saat di wawancara oleh pihak media suara Akar Rumput. 

Tokoh Dayak Siang ini juga bercerita, pada masa itu Bagi masyarakat Dayak, tradisi berburu bukan hanya sekedar aktivitas ekonomi atau konsumsi. Zaman dahulu kegiatan berburu sarat dengan nilai-nilai budaya dan ritual. Salah satunya ritual sebelum berburu, sebelum melakukan perburuan, sering kali diadakan ritual tertentu untuk memohon restu dari roh-roh leluhur dan dewa-dewa hutan.

Ritual ini bertujuan untuk meminta perlindungan dan keberuntungan dalam perburuan. Hasil buruan biasanya dibagi secara adil di antara anggota kelompok pemburu dan komunitas.
Ini mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong yang kuat dalam masyarakat Dayak. Tana malai tolung lingu yang sudah membudaya dari sejak turun temurun, ” ujarnya. 

“Masyarakat Dayak memiliki kepercayaan bahwa alam dan semua makhluk di dalamnya harus dihormati. Oleh karena itu, masyarakat Dayak di ajarkan berburu dengan bijak dan tidak serakah, hanya di perbolehkan untuk mengambil apa yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan saja tidak merusak hutan dan alam dan terutama sekali tidak menggangu ketenangan para Roh Roh leluhur penjaga alam dan hutan. 

Tradisi berburu masyarakat Dayak saat ini menghadapi berbagai tantangan, baik dari aspek lingkungan maupun sosial. Misalnya, deforestasi yang masif akibat penebangan liar dan ekspansi perkebunan kelapa sawit telah mengurangi habitat alami hewan buruan. Hal ini menyulitkan para pemburu untuk menemukan hewan di hutan. Tantangan lainnya adalah modernisasi dan perubahan gaya hidup. Generasi muda masyarakat Dayak mulai terpengaruh oleh gaya hidup modern dan seringkali meninggalkan tradisi berburu.

Menurutnya, Perubahan ini lah yang menyebabkan penurunan pengetahuan tentang teknik berburu secara tradisional.

Untuk menjaga tradisi berburu masyarakat Dayak agar tidak punah, beberapa langkah pelestarian yang dapat dilakukan, salah satunya adalah mengembangkan ekowisata yang berbasis pada tradisi berburu. Wisatawan dapat belajar dan merasakan langsung pengalaman berburu bersama masyarakat Dayak, yang sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi komunitas lokal. Kemudian juga bisa dengan mengadakan lomba-lomba tradisional yang salah satunya adalah teknik berburu.

Seperti yang diadakan saat isen Mulang dan karnaval budaya lomba tradisional menyumpit. Kegiatan ini dilaksanakan agar cara berburu tradisional tetap lestari terutama bagi generasi muda.

Kebiasaan berburu masyarakat Dayak merupakan bagian penting dari warisan kekayaan budaya. Meskipun menghadapi berbagai tantangan modernisasi, dengan upaya pelestarian yang tepat, tradisi ini dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. Kearifan lokal masyarakat,” Tutup nya.  [Longking]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *