Disnakertrans Mura Angkat Filosofi Bambu di HUT ke-23 Kabupaten Murung Raya

Kegiatan pemerintah

SENI BUDAYA5495 Dilihat

MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Dalam rangka memperingati Hari jadi kabupaten Murung Raya, ( HUT. Mura) yang ke-23 Disnakertrans dan ketenagakerjaan Kabupaten Murung Raya tengah mempersiapkan stan rumah’ yang terbuat dari anyaman bambu, yang memiliki cerita sejarah tanah malai buluh perindu. Senin, 28/07/2025.

“Stan pawai dalam Bambu tradisional 2025 ini mengungkapkan sejarah tentang peran bambu sebagai bagian dari identitas bangsa dan simbol keberlanjutan.

“Mewakili Disnakertrans dan ketenagakerjaan Kabupaten Murung Raya, edy Okotuah, menyampaikan Bambu bukanlah hanya tumbuhan yang cuma dianggap sebagai semak dan belukar biasa, tetapi bambu adalah warisan alam budaya yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia terutama di kabupaten Murung Raya provinsi Kalimantan Tengah yang kental dengan budaya kedayakan dimana semua masyarakat tau tentang cerita sejarah buluh perindu yang melambangkan cinta kasih terhadap sesama dan alam sekitarnya,” Pungkas edy.

“Dan Dalam sejarah bangsa kita, bambu telah menjadi saksi perjalanan bangsa, dari bilah bambu runcing yang menjadi simbol perjuangan hingga anyaman tradisional yang menghiasi rumah adat dan karya seni,”
ungkap nya pada media 28 juli 2025.

Rumah bambu bukan cuma di cintai oleh Suku Dayak saja tetapi Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 2024, Indonesia menjadi rumah bagi 175 jenis bambu dari 1.439 jenis di dunia, dengan 60 spesies di antaranya endemik.

“Keanekaragaman hayati bambu ini tidak hanya menjadi kebanggaan nasional tetapi juga memiliki peran besar dalam mendukung keseimbangan ekosistem global,” lanjut edy.

Namun, menurutnya, keunggulan bambu tidak hanya terletak pada manfaat ekologisnya. Bambu juga memainkan peran penting dalam seni, budaya, dan kehidupan masyarakat. “Sebagai bahan baku yang serbaguna, bambu telah menjadi bagian dari seni, musik, arsitektur, dan kerajinan tradisional.

Gubuk bambu, dan Sejenis anyaman bambu telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO pada 2010, sementara calung dan seruling bambu terus mengharumkan nama Indonesia di pentas internasional,” tambahnya.

Stan rumah bambu ini kami buat bukan semata-mata untuk menampilkan pawai dalam bentuk sensasi, tetapi Kita berharap kedepannya filosofi bambu bisa di jadikan sebagai simbol ketangguhan dan kelenturan. “Filosofi bambu yang lentur tetapi kokoh mengajarkan kita untuk menghadapi tantangan hidup dengan kekuatan dan kebijaksanaan.

“Saya dan seluruh keluarga besar dinas ketenagakerjaan Disnakertrans Murung Raya juga ingin menekankan bahwa bambu adalah bukti bahwa harmoni antara manusia dan alam adalah sesuatu yang mampu menghasilkan keindahan,” jelasnya.

Ratih juga mengapresiasi para budayawan, seniman, dan komunitas yang terus berinovasi dalam memanfaatkan bambu sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan bambu sebagai inspirasi dalam membangun masa depan. Murung Raya Menuju Mura Emas Kalteng berkah 2025-2030

“Mari kita jadikan bambu sebagai simbol keberlanjutan, inspirasi untuk hidup selaras dengan alam, dan pengingat bahwa identitas budaya adalah kekuatan kita.” tutup Edy Okotuah. [Longking]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *