MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Masyarakat Dayak Murung Raya kembali menunjukkan komitmen mereka dalam melestarikan tradisi Manugal, sebuah simbol kerukunan dan gotong royong yang diwariskan secara turun-temurun. Minggu, 12/10/2025.
Tradisi ini bukan sekadar kegiatan bercocok tanam padi, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, kepedulian sosial, dan semangat gotong royong.
Anggota DPRD Kabupaten Murung Raya, Imanudin, S.Pd.I, memberikan apresiasi terhadap kegiatan Manugal tersebut. Ia menekankan pentingnya pelestarian budaya lokal sekaligus pengembangan infrastruktur pedesaan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Manugal adalah warisan budaya yang sangat berharga. Kita harus terus menjaga, melestarikan, dan mengembangkannya agar tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan Manugal, para laki-laki bertugas menugal atau membuat lubang di tanah, sementara para perempuan melakukan membinyi, yaitu mengisi lubang tersebut dengan benih padi yang telah disiapkan oleh pemilik lahan.
Kegiatan ini biasanya diiringi hiburan tradisional seperti Haburing, yaitu tradisi menggosokkan arang hitam ke wajah tamu dan pemilik ladang — dalam bahasa Dayak disebut Batun binyi.
Acara Manugal ini dihadiri oleh aparat desa, BPD, ketua RT/RW, mantir adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta para pemuda dan pemudi yang bersama-sama memeriahkan kegiatan menanam padi tersebut.
Melalui kegiatan ini, masyarakat Dayak Murung Raya merasakan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial yang kuat.
Tradisi Manugal merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat Dayak Murung Raya yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus.
Lebih dari sekadar tradisi bercocok tanam, Manugal adalah simbol kebanggaan dan kekuatan sosial masyarakat Dayak Murung Raya. [Longking]
Manugal: Wujud Kerukunan dan Gotong Royong Masyarakat Dayak Murung Raya
Kegiatan pemerintah

