MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Menginang merupakan suatu istilah untuk menyebutkan kebiasaan mengunyah bahan perpaduan antara Daun Sirih, Pinang, Kapur, Gambir dan juga Tembakau. Menginang bisa disebut sebagai tradisi khususnya bagi suku Dayak Ngaju. Olesan kapur bewarna putih secukupnya secara tipis-tipis helai demi helai mengikuti tulang daun sirih tersebut, bilahan Pinang, secumput Gambir dan Tembakau untuk menambah cita rasa. Desa karali, kecamatan Tanah siang, Kabupaten Murung raya. Jum’at, 07/06/2024.
Menurut, Seorang Nenek, asal desa karali,
yang sudah berusia kurang lebih 90 (sembilan puluh) tahun, sehingga si penulis merasa enggan menyebutkan namanya,
SUKU Dayak siang, murung, bakumpai, Kabupaten Murung Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, dari sejak ratusan tahun silam, memiliki berbagai tradisi baik itu untuk menyambut tamu, berkumpul bersama sanak saudara, bahkan acara adat istiadat. Salah satu tradisi yang dikenal yaitu menginang, biasanya ini kerap dijumpai pada pernikahan, kelahiran, kematian, dan upara adat dan lain sebagainya.
“Menginang biasanya disuguhkan pada saat orang-orang berkumpul sambil bersendau gurau, berfungsi sebagai penyedap mulut tapi lama-kelamaan menjadi kebiasaan yang menimbulkan kesenangan dan terasa nikmat sehingga sulit untuk dilepaskan.
Suku Dayak siang, murung, dan bakumpai, telah lama mengenal Kebiasaan Menginang atau bahasa Dayak Ngaju Manyipa,
yang di yakini bahwa dapat menguatkan gigi, menyembuhkan luka di mulut, menghilangkan bau mulut, serta sebagai alat pengikat persaudaraan.
Dan Perlu kita ketahui bahwa bahan-bahan yang digunakan untuk menginang memiliki makna tertentu. Sirih sebagai simbol sifat rendah hati dan memuliakan orang lain, karena diambil dari cara ia hidup yang bersandar tanpa merusak tanaman yang lain.
Pinang sebagai simbol yang melambangkan keturunan yang baik serta sukes,
karena dilihat dari cara ia hidup pohonnya menjulang ke atas. Tidak merusak tumbuhan lain di sekitarnya nya, dan memiliki akar serabut yang kuat, tatapi bisa tumbuh subur diatas tanah gersang, Kapur melambangkan keturunan yang baik dari warnanya sudah putih dan bersih. Tembakau sebagai simbol hati tabah dan rela berkorban.
“Menginang sudah dilakukannya sejak ratusan tahun yang lalu, dan sudah membudaya secara turun temurun.
Menjadi kebiasaan Putri Dayak Kalimantan, Setelah selesai makan atau berkumpul bersama sanak saudara selalu menginang,”
Seorang Nenek ini juga bercerita tentang kebiasaan menginang aku salah seorang warga yang selalu menginang, saat dibincangi awak media semaku.net.
Menurut seorang nenek, rasanya hampa tanpa adanya menginang seperti ada hal yang kurang. Di manapun berada ujar nya,
dirinya selalu membawa peralatan untuk menginang “Jadi sambil berbicara ataupun berkumpul hal tersebut selalu kami lakukan apalagi setelah selesai acara makan atau sambil mengobrol, apalagi kalau berkumpul dengan kerabat teman atau orang lain dengan menginang memperkuat tali persaudaraan dan keakraban” katanya.
Menginang hal sulit terlepaskan. Karena menjadi tradisi, seiring perkembangan zaman modernisasi tradisi menginang ini jangan sampai punah atau hilang.
”Agar selalu dikenal oleh generasi selanjutnya, tidak tergerus oleh zaman yang semakin modernisasi. Karena dengan menginang ini menjadikan tali persaudaraan erat, karena dengan menginang dikenal sebagai ramah tamah apalagi menjamu tamu yang baru dikenal, bisa jadi cepat akrab, ditambah lagi bahan-bahan untuk menginang berasal dari alam dan hemat biaya ” imbuhnya seorang nenek yang sudah berusia 90 tujuan tetapi masih berjalan tegak tanpa di bantu dengan tingkat kayu, dan masih memiliki pandangan penglihatan yang tanpa berkacamata. [Longking]
Menginang/nyipa Sudah Menjadi Jamuan Warisan Tradisi Warga Masyarakat Dayak Siang
Murung, bakumpai, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan tengah

