MURUNG RAYA / SEMAKU.net – Musim kemarau tahun 2026 yang berkepanjangan terus menghadirkan berbagai tantangan bagi masyarakat Kabupaten Murung Raya. Minggu, 23/08/2026.
Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), kabut asap, keterbatasan air bersih, hingga tekanan terhadap perekonomian masyarakat menjadi persoalan yang harus dihadapi secara bersama-sama.
Menyikapi kondisi tersebut, Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Murung Raya, H. Johansyah, S.I.P., M.Si., menegaskan bahwa kekuatan utama daerah dalam menghadapi berbagai ujian bukan hanya terletak pada ketersediaan anggaran dan program pemerintah, tetapi juga pada ketangguhan karakter, kepribadian, budaya, serta semangat kebersamaan masyarakat.
“Dalam menghadapi berbagai cobaan dan tantangan yang datang silih berganti, kita sedang diuji. Diuji dalam berkepribadian dan diuji dalam berkebudayaan.
Musim kemarau ini seolah tidak ada ujungnya. Karena itu, mari kita semua mengambil bagian dan memberikan yang terbaik untuk daerah, dengan satu tujuan, yakni kesejahteraan rakyat Murung Raya,” ujar Johansyah kepada Suara Akar Rumput, Sabtu, 23 Agustus 2026.
Sinergi lintas sektor bukan sekadar tugas pemerintah
Sebagai pimpinan di Komisi II DPRD Kabupaten Murung Raya yang membidangi perekonomian, pertanian, dan kesejahteraan rakyat, Johansyah menekankan pentingnya membangun kerja kolektif dalam menghadapi dampak kemarau panjang.
Menurutnya, pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri. Peran pemerintah desa, BPD, tokoh adat, tokoh agama, pelaku UMKM, petani, nelayan, pemuda, serta seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan dalam menghadapi situasi tersebut.
Ia mendorong penguatan ketahanan pangan melalui langkah-langkah adaptasi sektor pertanian terhadap musim kering.
Upaya tersebut, kata dia, dapat dilakukan melalui penyediaan benih yang lebih tahan terhadap kekeringan, pengamanan sumber air, serta pendampingan kepada para petani agar aktivitas produksi tetap berjalan.
Selain itu, sektor ekonomi kerakyatan juga perlu mendapat perhatian serius agar para pelaku UMKM dan masyarakat kecil tetap mampu bertahan di tengah meningkatnya tekanan ekonomi akibat musim kemarau.
“Ketahanan pangan dan ekonomi rakyat harus menjadi perhatian bersama. Jangan sampai masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor pertanian dan usaha kecil justru semakin tertekan karena dampak kemarau berkepanjangan,” katanya.
Gotong royong dan kepedulian sosial harus diperkuat
Di bidang sosial, Johansyah mengajak seluruh masyarakat untuk kembali menguatkan semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama, khususnya kepada kelompok masyarakat yang paling rentan terdampak.
Perhatian tersebut perlu diberikan kepada lansia, balita, keluarga kurang mampu, serta masyarakat yang mengalami gangguan mata pencaharian akibat kondisi lingkungan dan cuaca ekstrem.
Menurutnya, masyarakat Murung Raya memiliki nilai-nilai luhur yang telah diwariskan secara turun-temurun, seperti musyawarah, tolong-menolong, persaudaraan, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Nilai-nilai tersebut, lanjut Johansyah, justru harus semakin diperkuat ketika daerah sedang menghadapi situasi sulit.
“Jangan sampai kita kehilangan jati diri di tengah tekanan. Nilai musyawarah, gotong royong, saling membantu, dan menjaga lingkungan merupakan kekuatan budaya kita. Saat menghadapi ujian seperti sekarang, nilai-nilai itulah yang harus kita hidupkan kembali,” ujarnya.
Persatuan menjadi kunci menghadapi masa sulit
Sebagai kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Johansyah juga menyerukan agar seluruh elemen masyarakat mengesampingkan perbedaan dan mengutamakan persatuan dalam menghadapi berbagai persoalan yang tengah terjadi.
Ia menilai, tantangan besar akan lebih mudah dihadapi apabila pemerintah, DPRD, dan masyarakat bergerak dalam satu semangat untuk melindungi kepentingan rakyat.
“Perbedaan tidak boleh melemahkan kita. Tantangan sebesar apa pun akan terasa lebih ringan jika kita bergerak bersama. Pemerintah, DPRD, dan seluruh lapisan masyarakat harus memiliki semangat yang sama. Fokus kita adalah menyelamatkan rakyat dan menjaga masa depan Murung Raya,” tegasnya.
Johansyah juga meminta pemerintah daerah untuk terus memperkuat langkah mitigasi dan melakukan pemetaan secara detail terhadap wilayah-wilayah yang terdampak kemarau, krisis air bersih, Karhutla, maupun kabut asap.
Menurutnya, data yang akurat sangat penting agar penanganan dan bantuan kepada masyarakat dapat dilakukan secara cepat, tepat sasaran, dan sesuai kebutuhan.
Bantuan tersebut dapat berupa distribusi air bersih, peningkatan layanan kesehatan bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan, hingga penguatan stimulus ekonomi bagi warga yang terdampak secara langsung.
Menjadi catatan bagi masa depan Murung Raya
Di akhir penyampaiannya, Johansyah mengingatkan bahwa setiap masa sulit akan berlalu. Namun, cara masyarakat dan pemerintah dalam merespons setiap ujian akan menjadi bagian dari perjalanan dan sejarah pembangunan daerah.
“Musim akan berganti dan kemarau pun akan berlalu. Tetapi bagaimana kita bersikap hari ini akan menjadi catatan sejarah. Mari kita memilih jalan yang memuliakan manusia, menjaga alam, memperkuat persatuan, dan mengutamakan kepentingan bersama,” pungkasnya.
Melalui semangat kolaborasi, ketangguhan budaya, dan kepedulian sosial, Johansyah berharap masyarakat Kabupaten Murung Raya mampu melewati berbagai dampak kemarau panjang dengan tetap menjaga persatuan dan optimisme.
Fokus pemberitaan: Wakil Ketua Komisi II DPRD Murung Raya H. Johansyah menyerukan kolaborasi dan penguatan budaya lokal dalam menghadapi dampak kemarau panjang. [Longking]

