Kapal “Cinta Budiman” peninggalan Belanda Muncul Saat Kemarau, Jadi Saksi Bisu Sejarah Perjuangan Dayak di Barito

Kegiatan pemerintah

UTAMA5159 Dilihat

MURUNG RAYA / SEMAKU.net — Fenomena surutnya debit air Sungai Barito akibat musim kemarau panjang kembali membuka jejak sejarah yang selama ini tersembunyi di dasar sungai. Sabtu, 29/08/2026.

Di dekat Kampung Cinta Budiman, Kecamatan Barito Tuhup Raya, Kabupaten Murung Raya, sebuah kapal tua yang dikenal masyarakat sebagai Kapal “Cinta Budiman” kembali terlihat di permukaan.

Keberadaan kapal tersebut menjadi perhatian warga setelah foto penampakannya beredar dan viral di media sosial.

Kapal yang oleh masyarakat setempat diyakini berkaitan dengan masa kolonial Belanda itu selama ini berada di dasar Sungai Barito dan baru dapat terlihat lebih jelas ketika debit air sungai mengalami penurunan drastis.

“Sayangnya, keberadaan kapal yang diyakini sebagai peninggalan masa Belanda tersebut berada di dasar Sungai Barito. Hanya pada saat musim kemarau panjang, ketika air sungai surut, kapal itu baru bisa dilihat dengan jelas oleh warga sekitar,” ujar M.

Ridani, warga yang pertama kali membagikan penampakan kapal tersebut dan akrab disapa Dani.

Saksi bisu sejarah perjuangan para leluhur
Bagi masyarakat setempat, keberadaan kapal tua tersebut bukan sekadar bangkai kapal yang tersisa di dasar sungai.

Kapal itu diyakini menyimpan cerita masa lalu dan menjadi pengingat akan sejarah perjuangan para leluhur, khususnya masyarakat Dayak Kalimantan Tengah, dalam menghadapi masa kolonial.

“Hal tersebut mengingatkan kita semua betapa besarnya perjuangan para pejuang Dayak Kalimantan Tengah pada masa lalu. Kita bisa membayangkan betapa berat perjuangan mereka dalam menghadapi kekuatan kolonial yang datang dengan persenjataan dan armada,” ungkap Dani dengan penuh haru.

Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat, nama kapal tersebut memiliki keterkaitan dengan nama Kampung Cinta Budiman. Pada masa lampau, Sungai Barito merupakan salah satu jalur utama kehidupan masyarakat.

Sungai menjadi urat nadi transportasi, perdagangan, komunikasi, hingga jalur strategis dalam berbagai peristiwa sejarah.
Kapal pada masa itu bukan hanya alat transportasi, tetapi juga menjadi simbol kekuatan dan penguasaan atas jalur-jalur perairan.

Karena itu, keberadaan kapal tua yang kini muncul saat musim kemarau dinilai memiliki nilai sejarah yang penting untuk ditelusuri lebih mendalam.

potensi warisan budaya yang perlu diteliti
Keberadaan Kapal Cinta Budiman dinilai berpotensi menjadi salah satu objek sejarah yang penting bagi Kabupaten Murung Raya.

Namun, status, usia, asal-usul, serta kaitannya dengan peristiwa sejarah tertentu masih memerlukan penelitian dan kajian lebih lanjut dari pihak yang memiliki kompetensi di bidang sejarah, arkeologi, dan kebudayaan.

Apabila ditangani secara serius, keberadaan kapal tersebut berpotensi dikembangkan sebagai:

Destinasi wisata sejarah dan edukasi, khususnya bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, dan masyarakat yang ingin mengenal sejarah Sungai Barito serta perjalanan masyarakat Dayak pada masa lalu.

Identitas budaya Kecamatan Barito Tuhup Raya, yang memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah kehidupan masyarakat di sepanjang aliran Sungai Barito.

Objek penelitian sejarah dan arkeologi, guna mengungkap asal-usul kapal, usia, fungsi, serta kemungkinan keterkaitannya dengan sejarah kolonial dan perjuangan masyarakat di wilayah pedalaman Kalimantan.

seruan untuk dokumentasi dan perlindungan
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Murung Raya melalui instansi terkait, termasuk dinas yang membidangi kebudayaan dan pariwisata, dapat segera melakukan pendataan dan dokumentasi terhadap keberadaan kapal tersebut.

Selain itu, diperlukan kajian yang lebih mendalam dengan melibatkan sejarawan, akademisi, arkeolog, serta tokoh adat dan masyarakat setempat agar informasi mengenai Kapal Cinta Budiman dapat ditelusuri berdasarkan bukti sejarah yang kuat.

“Jangan sampai cerita tentang Kapal Cinta Budiman hanya tinggal cerita. Mari kita rawat dan dokumentasikan, agar anak cucu kita mengetahui bahwa di sungai ini tersimpan jejak sejarah besar dari masa lalu,” harap Dani.

Musim kemarau yang menyebabkan surutnya Sungai Barito seolah membuka kembali lembaran sejarah yang selama ini tertutup oleh air. Kapal Cinta Budiman kini bukan hanya menjadi perhatian masyarakat, tetapi juga menjadi pengingat bahwa banyak jejak masa lalu yang masih tersembunyi dan belum sepenuhnya terungkap.

Karena menjaga peninggalan sejarah berarti menjaga jati diri. Dan menjaga jati diri berarti mewariskan pengetahuan serta kebanggaan kepada generasi penerus di Bumi Tana Malai Tolung Lingu. [Longking]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *